Uncategorized

Mentor Entrepreneurship Pertamaku adalah Ibu

Tanggal ulang tahunku hanya berjarak tiga hari dari ulang tahun ibuku. Aku merayakan ulang tahun di tanggal 4 April dan Ibuku di tanggal 7 April. Dan karena tanggal-tanggal tersebut dekat dengan Idul Fitri di tahun 2024 ini, jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu dan keluarga. Momen itu juga jadi momen refleksiku.

Aku aku mau cerita soal ibuku dan teladan yang aku dapatkan darinya. Ibuku saya memang seorang tamatan Sekolah Dasar (SD). Ibuku suka bercerita bahwa dia sangat ingin belajar di sekolah. Namun setelah lulus SD, dia tidak diijinkan melanjutkan sekolah oleh kakek saya karena memiliki penyakit asma akut.

Ibu saya sangat kecewa pada saat itu. Begitu kecewanya, sampai-sampai ijazah SD miliknya dia lempar ke atas genteng rumah.

Ibuku suka bercerita bahwa dirinya sering merasa sedih saat melihat teman-temannya memakai seragam dan berangkat sekolah setiap pagi hari.

Singkat cerita, ibuku hanya melanjutkan pendidikan agama dan juga belajar jahit. Kemudian d usia 16 tahun, ibuku menikah dengan ayahku yang terpaut jarak usia 12 tahun.

Latar belakang itu menyebabkan ibuku sepanjang hidupnya merasa bahwa dirinya bodoh. Dia sering mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak menjadi seperti dirinya yang bodoh dan tidak sekolah.

Tapi aku justru merasa sebaliknya. Bagiku ibuku sangat cerdas. Semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku menyadari bahwa ada banyak teladan yang aku pelajari dari ibuku. Aku mau membagikan dua pelajaran berharga yang aku dapatkan dari ibuku.

Pelajaran pertama: Entrepreneurship

Aku mau sedikit cerita soal diriku. Saat ini aku adalah seseorang yang terus yang juga sedang belajar menjadi entrepreneur. Aku membuka dan menjalankan usaha di bidang agency, F&B dan ritel.

Di bidang Agency, aku menjalankan XYZ+ Agency yang berfokus pada public relations dan juga event organizer. Di bidang F&B, aku membuka restoran di Kawasan Lebak, Banten yakni Makan Di Jepang, Shabu & Grill dan juga gerobak Apoy, Seblak & Burger. Sementara di ritel, aku membuka toko online Katote yang menjajal penjualan melalui livestreaming.

Sebelumnya, aku juga pernah beberapa kali menjajal usaha, sebagian ada yang gagal.

Semakin aku bertumbuh, semakin aku menyadari bahwa bekal entrepreneurship aku berasal dari ibuku. Saat ini, aku memiliki mentor dalam bidang entrepreneurship. Namun jauh sebelumnya, sejak aku kecil, mentor pertamaku soal entrepreneurship adalah ibuku.

Aku tumbuh besar dengan menjadi saksi betapa gigihnya ibuku dalam membangun dan mengelola usaha. Saat aku kecil, ibuku beberapa kali membuka usaha di rumah, pernah warung kecil-kecilan, pernah juga jualan nasi uduk. Bahkan pada suatu masa, pernah berjualan sayuran di gerobak dibantu seorang kerabat.

Aku ingat masa-masa aku SD, setiap pulang sekolah aku sering diminta ikut menjaga warung. Kadang juga diajak ibu ke pasar untuk belanja stok barang. Karena rumahku masuk ke dalam gang, aku ingat jika belanjaan sedang banyak, ibuku meminta angkot yang kita tumpangi untuk masuk ke dalam gang dan mengantarkan sampai ke depan warung. Sebagai imbalannya, ibu memberikan uang lebih pada sopir angkot itu.

Bahkan pada masa-masa itu, ibu mengajari adik laki-lakiku untuk membuka usaha rental Playstation (PS), lantaran adikku itu kerap kabur sepulang sekolah ke pasar demi bisa main PS. Ibuku mengajarkan bahwa daripada kabur dan membuat cemas, lebih baik bermain PS di rumah.

Ibuku juga mengajarkan bahwa jangan hanya bisa bermain, tapi juga bisa menghasilkan uang dari permainan yang disukai. Alhasil, ibu memberikan modal berupa beberapa televisi tabung dan PS untuk adikku usaha. Saat itu adikku masih SD.

Selain itu, ibuku juga sering mengajarkan kami, anak-anaknya, untuk membawa box berisi pulpen ke sekolah. Tujuannya adalah untuk dijual. Pernah juga pada beberapa kali periode Ramadhan, ibuku mengajarkan kami untuk jualan petasan di depan rumah. Kebetulan lokasinya strategis, tepat di depan masjid yang memiliki halaman luas.

Hasil didikan ibuku rupanya membekas pada diriku dan adik-adikku. Kami semua sama-sama pernah dan belajar menjadi entrepreneur.

Aku sendiri saat masih bekerja sebagai wartawan di sebuah media online di Jakarta, pada satu periode, saat harus “jaga kendang” sebagai asisten redaktur di kantor, aku bawa satu kotak isi camilan kemasan untuk aku jual Rp5 – 10 ribu di kantor. Alasannya karena sering banyak yang minta camilan aku. Jadi lebih baik aku jual.

Pernah juga pada saat yang sama aku menjadi reseller tas-tas konveksi dari Bogor, aku jual di marketplace dan juga Blackberry Messenger.

Hingga saat ini aku masih menjadi seorang yang terus belajar menjadi entrepreneur. Aku bersyukur, ditakdirkan lahir dari rahim ibuku. Sosok yang tidak pernah menyerah dengan keadaan. Sosok yang menjadi mentor entrepreneurship pertamaku. Sejak aku kecil, ibuku menanamkan bekal pada anak-anaknya untuk jangan malu dalam usaha yang halal dan jangan pernah takut gagal. Karena ketakutan akan kegagalan tidak akan pernah membawamu kemana-mana.

Aku ingat satu kutipan dari salah satu orang terkaya di dunia, founder dan executive chairman dari Amazon, Jeff Bezos.

“I knew that if I failed, I Wouldn’t regret that, but I knew that the one thing I might regret is not trying,” 

Pelajaran Kedua: Memiliki Tujuan Finansial 

Keluargaku adalah keluarga sederhana. Ayahku seorang PNS dan ibuku adalah ibu rumah tangga yang juga entrepreneur dengan usaha kecil-kecilan di rumah. Aku sendiri adalah empat bersaudara, dengan aku sebagai anak tertua.

Aku ingat, bahwa meski kami hidup sederhana, aku tidak pernah merasa kekurangan. Aku dan adik-adik sekolah di sekolah yang memiliki standar baik dan memiliki reputasi yang baik. Kami tidak pernah kelaparan atau memakai pakaian lusuh yang compang camping. Kami terawat dengan baik, mesti tidak berlebihan.

Kini, saat aku sudah menjadi ibu dan memiliki dua anak, aku merasakan bahwa untuk mengatur keuangan rumah tangga merupakan tugas yang rumit. Untuk menyeimbangkan kebutuhan primer, keperluan anak-anak, tujuan finansial pribadi dan arus kas usaha yang aku jalani, perlu kemampuan manajerial keuangan yang baik.

Demi memiliki kemampuan itu, aku belajar mengenai Kakeibo. Salah satu buku yang aku baca adalah “Kakeibo: The Japanese Art of Saving Money” alias seni menabung ala Jepang. Buku itu sebelumya adalah jurnal keuangan.

Aku pelajari di situ bahwa Kakeibo merupakan metode untuk mengelola keuangan, yang diperkenalkan oleh jurnalis perempuan pertama di Jepang Hani Motoko tahun 1904. Menurut sejarahnya, metode ini membantu keterampilan perempuan di rumah tangga untuk mengelola sumber daya keuangan yang terbatas untuk bertahan secara finansial, terutama di masa sulit.

Sederhananya, metode ini menganjurkan perempuan di rumah tangga untuk mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran serta menempatkan pos-pos keuangan pada amplop-amplop yang berbeda. Sebagai contoh, pada masa sulit, akan terlihat pada amplop untuk konsumsi, apakah masuk akal untuk makan daging di minggu ini dengan dana yang ada, atau dana hanya cukup untuk makan dengan sayur.

Tujuannya adalah agar kita bisa melihat dengan lebih jelas, apakah pos pengeluaran kita sudah rasional atau ada yang perlu disesuaikan. Konsep ini erat dengan gaya hidup minimalis dan berkesadaran.

Dengan metode Kakeibo ini, kita juga bisa fokus pada apa yang menjadi tujuan keuangan kita, Dengan demikian, kita bisa membangun relasi yang harmonis dengan uang demi mencapai tujuan finansial yang diinginkan.

Aku sendiri masih jatuh bangun dalam menerapkan metode sederhana itu dalam keuangan rumah tanggaku. Namun buku itu membuatku semakin menyadari akan kemampuan ibuku dalam mengatur keuangan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan rumah dan mencapai tujuan finansialnya, yakni menyekolahkan anak-anaknya dengan baik.

Ibuku sering bercerita bahwa kekecewaannya pada kakekku karena tidak disekolahkan, membuatnya berjanji pada diri sendiri untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Aku kemudian menyadari bahwa menyekolahkan empat anaknya sampai ke perguruan tinggi adalah tujuan finansialnya. Tapi ibuku paham itu bukan hal yang mudah dengan kemampuan finansial yang ada. Karena itu dia berupaya dengan mencari uang tambahan dengan membuka usaha dan juga mengatur keuangan dengan cermat.

Aku sangat bersyukur memiliki Ibu yang sangat cerdas. Karena tanpa pengelolaan keuangan yang tepat saat itu, mustahil untuk menyekolahkan empat anak sekaligus di sekolah yang baik hingga lulus perguruan tinggi.

Tentu, dalam perjalanannya kekeliruan atau situasi tidak terduga pernah terjadi. Namun aku tidak pernah sedikitpun merasa kelaparan atau putus sekolah. Ibuku merawatku dengan baik, meski mungkin situasi yang dia hadapi saat itu tidak stabil.

Jadi sekarang saat dia sudah berhasil memenuhi janji pada dirinya sendiri untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke pergeruan tinggi, dan semua anaknya sudah menikah dan memiliki anak, ibuku baru melanjutkan kembali mimpinya sendiri untuk sekolah.

Aku bangga sekali melihat ibuku yang baru saja menyelesaikan sekolah paket B atau setara dengan kelulusan SMP di  Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Ada satu puisi karya seorang penyair ternama yang kukagumi, Zawawi Imron. Aku biasa memanggilnya “Ayah”. Puisi yang setiap aku membacanya atau mendengarnya, bergertar seluruh sel dalam tubuhku. Judulnya “Ibu”.

Ibu

karya Zawawi Imron

 

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

 

Kalau aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

 

Ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

 

Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti

 

Bila kasihmu ibarat samudera

sempit lautan teduh

tempatku mandi, mencuci lumut pada diri

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

lokan-lokan, mutiara, dan kembang laut semua bagiku

 

Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu

 

Lantaran aku tahu

engkau ibu dan aku anakmu

 

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal

Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

 

Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala

sesekali datang padaku

menyuruhku menulis langit biru

dengan sajakku ***

 

 

 

Anda mungkin juga suka...

6 Komentar

  1. sutomo menulis:

    luar biasa…ikut bangga

    1. Terima kasih, Om Tomo

  2. Moh amsori menulis:

    Sangat inspiratif. Kekurangan bukan menjadi hambatan. Jiwa entrepreneur tumbuh & berkembang on street. Sukses sll

    1. Alhamdulillah, terima kasih Om Sori

  3. Jonminofri Nazir menulis:

    Cerita yang memikat, ditulis oleh tangan yang digerakan malaikat. Tulisan penuh pesan: bahwa ibu adalah guru. Ibu mengajarkan kita berburu hidup yang baik, terhormat, dan bercita-cita. Beruntung lah Amel yang punya ibu yang selalu bergerak, tidak habis akal, mampu mendorong anak-anaknya berprestasi, lalu menunaikan cita-cita lama yang belum selesai karena larangan kakek.

    1. Ya.. Saya merasa sangat beruntung. Terima kasih, Pak Jon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *