Pengalaman Pakai Kamera Yashica Digimate Saat Traveling ke Banyuwangi: Nostalgia Era Tustel di Zaman Digital

PERTENGAHAN Juli 2025 jadi momen yang menyenangkan dan cukup emosional buat aku. Setelah lebih dari 15 tahun berteman sejak masa kuliah, akhirnya aku bisa healing bareng geng era kuliah dulu dengan traveling bareng ke Banyuwangi. Yang membuat perjalanan kali ini lebih berkesan, bukan cuma tempat tujuannya yang indah, tapi juga gadget baru yang aku bawa: kamera Yashica Digimate.

Kamera ini bukan kamera digital canggih dengan fitur segudang, tapi justru di situlah letak pesonanya. Kamera ini berhasil membawa aku throwback ke masa-masa SMP, ketika tustel analog masih jadi teman setia saat bepergian.

Kenalan dengan Kamera Yashica Digimate

Aku beli Yashica Digimate di awal Juli 2025 di Doss Camera, Ratu Plaza, Jakarta. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp1.099.000. Dari tampilannya saja, kamera ini sudah memancarkan aura retro yang bikin jatuh hati. Bentuknya mungil, simple dengan kesan klasik yang kuat plus warnanya gemesin banget. Tapi jangan salah, meski terlihat jadul, ini kamera digital yang bisa menyimpan hasil jepretan dalam kartu memori.

Satu hal yang langsung terasa saat memakainya: sensasi memotret yang pure. Nggak ada layar besar untuk cek hasil foto berulang-ulang, nggak ada filter instan, apalagi fitur AI. Hanya kamu, momen, dan insting. Dan justru di situlah letak keasyikannya. Rasanya seperti kembali ke masa di mana memotret adalah soal rasa dan kepekaan, bukan soal kesempurnaan.

Mengabadikan Momen di Banyuwangi

Selama traveling ke Banyuwangi—dari Green Island, Taman Nasional Baluran hingga Ijen—aku mengandalkan kamera Yashica Digimate ini untuk mengabadikan momen-momen spesial.

Hasil fotonya memang nggak se-crisp kamera mirrorless modern. Bahkan kalah jauh sama hasil jepretan Samsung Galaxy Z Fold 6 yang juga aku pakai. Tapi justru itulah yang bikin unik. Ada grain, tone yang hangat, dan kesan autentik yang nggak bisa ditiru filter-filter di ponsel. Setiap foto terasa seperti potongan memori, bukan sekadar dokumentasi.

Nostalgia dan Nilai Emosional

Yang paling aku suka dari pengalaman ini adalah perasaan nostalgia yang dibawa kamera ini. Mengingatkan aku pada masa-masa SMP dengan tustel Kodak isi film 36, dan harus menunggu berhari-hari untuk lihat hasil cetaknya. Sekarang, dengan Yashica Digimate, sensasi itu hadir kembali—dengan sedikit sentuhan modern.

Pakai kamera ini saat traveling juga bikin aku lebih mindful. Karena keterbatasan fitur dan jumlah foto, aku jadi lebih hati-hati dan fokus dalam memilih momen. Nggak asal jepret. Dan hasilnya? Lebih banyak momen yang terekam dengan makna.

Worth It Kah Kamera Yashica Digimate?

Kalau kamu sedang mencari kamera digital retro dengan harga terjangkau dan pengalaman fotografi yang berbeda, Yashica Digimate layak banget dicoba. Cocok untuk kamu yang ingin kembali menikmati esensi fotografi tanpa distraksi digital. Selain itu, ini juga bisa jadi statement piece saat traveling—unik, klasik, dan penuh cerita.

Dan buatku pribadi, kamera ini bukan cuma alat dokumentasi, tapi juga mesin waktu kecil yang berhasil membawa aku kembali ke kenangan masa remaja, saat memotret masih jadi bentuk ekspresi paling jujur.

Kalau kamu suka traveling dan ingin membawa sesuatu yang beda dari biasanya, coba deh bawa kamera ini. Siapa tahu, kamu juga bakal merasakan keajaiban nostalgia yang sama seperti yang aku alami. ***

Tulisan ini dipublikasikan di Berbagi Kisah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *