Mobil, Playlist 2000-an, dan Cara Milenial Meregulasi Emosi

“Setiap orang punya cara pulang. Sebagian orang pulang ke rumah. Sebagian lagi pulang lewat lagu-lagu yang pernah menjadi soundtrack hidupnya.”

Ada satu kebiasaan yang hampir selalu aku lakukan ketika menyetir, yaitu memutar musik keras-keras dan ikut menyanyi. Playlist-nya pun hampir tidak pernah berubah. Lagu-lagu era 2000-an. Mulai dari Maroon 5, BeyoncΓ©, Avril Lavigne, Britney Spears, Blue dan sederet lagu hits yang menemani masa remaja dan awal usia dua puluhan.

Kebiasaan itu aku lakukan hampir di setiap perjalanan. Saat berangkat atau pulang kerja. Saat menuju tempat olahraga. Atau ketika sedang berkendara untuk aktivitas lainnya.Entah mengapa, setiap kali melakukannya, rasanya seperti ada beban yang pelan-pelan terangkat. Padahal aku hanya duduk sendirian di dalam mobil, bernyanyi sekeras mungkin, seringkali fals, kadang lupa lirik, sesekali mengetuk setir mengikuti irama.

Tidak ada sesi terapi. Tidak ada percakapan yang menyelesaikan masalah. Tidak ada solusi yang tiba-tiba muncul. Tetapi setelah perjalanan itu selesai, rasanya selalu sedikit lebih lega.Selama ini aku tidak pernah benar-benar memikirkan kebiasaan tersebut. Aku melakukannya semata-mata for fun. Karena terasa seru. Karena memang suka saja.

Sampai beberapa waktu lalu aku melihat beberapa konten di TikTok dan X, baik dari kreator Indonesia maupun luar negeri, yang membahas fenomena serupa, yaitu soal how millennials regulate their emotions.

Menariknya, pola yang mereka ceritakan hampir sama. Yaitu menyetir, memutar musik dengan volume tinggi, lalu bernyanyi bersama playlist lagu-lagu tahun 2000-an.Aku langsung tertawa kecil. “Lho, kok ini aku banget?”

Rasa penasaran pun muncul. Apakah ini sekadar kebetulan? Atau memang ada penjelasan psikologis mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu akrab bagi sebagian orang?

Ternyata, ada. Dalam bab Music in Everyday Life: The Role of Emotions pada buku Handbook of Music and Emotion: Theory, Research, Applications (2010), seorang psikolog asal Inggris yang dikenal secara internasional atas kontribusi pionirnya dalam psikologi musik yaitu John Anthony menjelaskan bahwa musik dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar hiburan. Manusia menggunakan musik sebagai bagian dari cara mereka menjalani dan mengelola pengalaman emosional.

Yang menarik, menurut Sloboda, efek musik dalam kehidupan sehari-hari justru sering kali tidak bersifat dramatis. Musik tidak selalu membuat seseorang menangis atau mengalami luapan emosi yang besar. Sebaliknya, musik lebih sering menghasilkan perubahan-perubahan kecil yang nyaris tidak disadari, sedikit lebih tenang, sedikit lebih lega, sedikit lebih bersemangat, atau sedikit lebih nyaman menjalani aktivitas. Justru perubahan kecil yang terjadi berulang inilah yang membuat musik menjadi bagian penting dari kesejahteraan emosional seseorang.

Sloboda juga menekankan bahwa yang memengaruhi emosi kita bukan hanya lagunya, melainkan konteks saat lagu itu didengarkan. Lagu yang sama dapat menghadirkan pengalaman yang berbeda ketika diputar saat perjalanan menuju kantor, setelah hari kerja yang melelahkan, atau ketika berkendara sendirian di jalan yang lengang.

Artinya, ketika aku memutar playlist era 2000-an di dalam mobil, yang bekerja bukan hanya lagu-lagu Maroon 5 atau Avril Lavigne. Ada konteks yang menyertainya, yaitu ruang kecil yang relatif privat, jeda di antara berbagai tuntutan pekerjaan, kebebasan untuk bernyanyi tanpa takut dinilai, dan kesempatan memberi waktu bagi pikiran untuk perlahan menurunkan intensitasnya.

Sloboda juga memandang pendengar sebagai sosok yang aktif. Kita tidak mendengarkan musik secara pasif. Kita memilih lagu tertentu karena, sadar atau tidak, sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin menambah semangat, ada yang ingin menenangkan diri, ada pula yang hanya ingin ditemani agar perjalanan terasa lebih ringan.

Mungkin itu sebabnya banyak milenial memiliki playlist yang hampir tidak pernah berubah. Bukan karena mereka menolak musik baru. Bukan pula karena lagu-lagu era 2000-an selalu lebih baik. Melainkan karena di balik playlist itu tersimpan rasa yang sulit dijelaskan. Ada kenyamanan, ada keakraban, dan ada perasaan “pulang” yang muncul setiap kali lagu pertama diputar.Kini saya jadi memahami bahwa kebiasaan bernyanyi keras-keras di dalam mobil bukanlah sesuatu yang aneh atau kekanak-kanakan. Barangkali itu adalah cara sederhana tubuh dan pikiran memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Dan mungkin, sesekali, meregulasi emosi memang bisa dimulai dengan hal yang sangat sederhana: menyalakan mesin, menekan tombol play, lalu bernyanyi sekeras mungkin, seolah tidak ada siapa-siapa di kursi sebelah.Mungkin yang membuatku terus memutar playlist era 2000-an bukan karena aku sedang hidup di masa lalu. Melainkan karena, sesekali, aku hanya ingin pulang pada versi diriku yang terasa lebih ringan. ***

Di Antara Derap Kuda dan Secangkir Kopi: JJ Cafe Sawangan

Aku bukan tipe orang yang sengaja berburu kafe estetik. Karena buat aku, kafe yang baik bukanlah yang paling cantik, melainkan yang membuat aku betah duduk lebih lama dari rencana semula.

Baru-baru ini, gara-gara penasaran akibat keusilanku eksplor Google Maps saat susah tidur, aku berkunjung ke salah satu kafe di dekat rumah. Namanya JJ Cafe di Sawangan. Jaraknya hanya sekitar tujuh menit berkendara dari rumah. Tanpa ekspektasi apa pun, aku memutuskan untuk datang.

Hal pertama yang mengejutkanku justru bukan kopinya. Melainkan kawasan kafe itu. JJ Cafe berada di dalam area fasilitas berkuda premium yang membuatnya terasa berbeda dari kafe pada umumnya. Bahkan meski dikelilingi kandang kuda, kawasannya bersih dan tidak bau sama sekali. Kuda-kuda yang ada di situ pun, tampak sangat terawat, gagah dan cantik. Jujur, aku tidak menyangka ada tempat seperti ini sedekat itu dari rumah.

JJ Cafe sendiri letaknya di lantai dua, ada area indoor ber-AC dan area outdoor. Keduanya sama-sama menghadap langsung ke arena latihan berkuda. Dari sana, aku bisa menikmati sore sambil melihat para penunggang kuda (equestrian) berlatih di arena berlatih. Sesekali terdengar derap langkah kuda yang berpadu dengan semilir angin sore. Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang setiap hari bisa aku nikmati sambil minum kopi.

Saat bertanya kepada barista tentang menu yang direkomendasikan, aku memilih Brown Sugar Latte seharga Rp30.000. Rasanya bukan kopi terbaik yang pernah aku minum, tetapi cukup menyenangkan. Kalau harus mendeskripsikannya dengan satu kalimat, aku akan bilang, kopinya sopan di lidah. Manisnya tidak berlebihan dan tetap nyaman dinikmati.

Aku juga mencoba pisang goreng kampung dan french fries yang masing-masing dibanderol Rp30.000. Teman sore yang pas tanpa mengecewakan, berpadu harmonis dengan es kopi yang aku minum sambil melanjutkan pekerjaanku di depan laptop.

Namun, sejujurnya, aku rasa orang datang ke sini bukan semata-mata karena makanannya. Di titik ini, aku sadar bahwa yang dijual JJ Cafe sebenarnya bukan sekadar kopi atau makanan. Yang mereka jual adalah pengalaman. Rasa kopi dan makanan sangat bisa ditiru di kafe mana saja. Namun pemandangan equestrian berlatih di arena berkuda, di mana lagi bisa ditemukan?

Sebagai seseorang yang juga tertarik pada dunia bisnis, aku justru melihat kekuatan utama tempat ini ada pada konsepnya. Arena berkuda dan sekolah berkuda sudah lebih dulu menjadi sebuah bisnis dengan target pasarnya sendiri. Lalu, di tengah aktivitas itu, hadir sebuah kafe yang memungkinkan orang menikmati suasana tanpa harus menjadi penunggang kuda. Ini menurutku keputusan yang cerdas. Apalagi kafe dibuka untuk umum, bukan hanya untuk mereka yang berlatih kuda.

Orang tua yang menunggu anaknya latihan berkuda bisa menikmati kopi. Teman atau pasangan yang hanya ingin menemani juga tetap punya tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu. Bahkan orang seperti aku, yang awalnya hanya penasaran karena melihatnya di Google Maps, akhirnya ikut menikmati suasana yang ditawarkan.

Dengan kata lain, kafe ini tidak hanya menjual makanan dan minuman. Ia memperpanjang pengalaman pengunjung sekaligus membuka sumber pendapatan baru dari aset yang sudah dimiliki.

Menurutku, konsep seperti ini menarik. Sebuah bisnis tidak selalu harus menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kemampuan melihat potensi dari apa yang sudah ada, lalu mengemasnya menjadi pengalaman yang membuat orang betah dan punya alasan untuk ingin kembali.

Dan kalau ditanya, apakah aku akan kembali ke JJ Cafe? Jawabannya: iya.

Ada tempat yang membuat kita ingin cepat pulang. Ada juga tempat yang membuat kita menunda pulang. JJ Cafe, bagi aku, termasuk yang kedua.

Catatan Singgah Amelia

πŸ“ JJ Cafe – Sawangan

β˜• Yang aku pesan:

Brown Sugar Latte – Rp30.000

Pisang Goreng Kampung – Rp30.000

French Fries – Rp30.000

Bintang Crystal – Rp35.000

πŸŒ… Waktu terbaik berkunjung:

sore hari, terutama jika ingin menikmati suasana dari area outdoor lantai dua.

πŸ’œ Alasan untuk kembali: duduk santai sambil menyaksikan equestrian latihan berkuda, menikmati sore yang tenang, dan mengingatkan diri bahwa kadang pengalaman terbaik datang dari tempat yang ditemukan secara tidak sengaja.