Dari Piala Dunia 2026, Shakira, hingga Casio

Piala Dunia 2026 meninggalkan banyak momen yang layak dikenang. Sebagian orang mungkin akan mengingat gol-gol dramatis, kejutan di fase gugur, atau pertandingan final yang menegangkan.Kalau aku, ada dua hal yang paling membekas.

Yang pertama adalah Erling Haaland. Entah bagaimana, selama turnamen itu berlangsung, aku menemukan idola baru di lapangan hijau. Bukan hanya karena kemampuannya mencetak gol, tetapi juga karena ketenangan dan kepercayaan dirinya ketika bermain. Selain itu personal brandingnya yang kuat dan unik, serta latar belakang dan kedisplinannya yang patut diacungi jempol membuatku semakin kagum pada atlet asal Norwegia itu.

Yang kedua justru datang dari luar lapangan, yaitu Shakira. Penampilannya di halftime show final Piala Dunia 2026 kembali mengingatkanku mengapa sejak dulu aku begitu mengaguminya.

Aku penggemar Shakira sejak dia menyikan “Suerte (Whenever, Wherever)”, “Hips Don’t Lie” hingga yang terbaru “Dai Dai” yang menjadi official anthem untuk Piala Dunia 2026. Penyanyi asal Barranquilla, Kolombia ini selalu berhasil membawa atmosfer berbeda berkat suaranya yang khas dan berpadu apik dengan olah tubuhnya yang energik.

Lucunya, setiap kali mengingat Shakira, aku kadang teringat pada sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan musik, yaitu merk jam tangan Casio.

Kok bisa?

Jadi, beberapa tahun lalu, setelah perceraiannya dengan Gerard Piqué, Shakira merilis lagu yang menyita perhatian dunia berjudul “Bzrp Music Sessions, Vol. 53”. Lagu berbahasa Spanyol ini seakan menjadi luapan ekspresi akan kemarahan akibat pengkhianatan serta proses bangkit setelah hubungan yang kandas. Lagu ini menjadi semacam sindiran terang-terangan Shakira kepada sang mantan suami.

Ada salah satu lirik yang mencuri perhatian publik, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Kau menukar Rolex dengan Casio”. Ini adalah sebuah metafora yang dengan cepat dipahami publik, Rolex diposisikan sebagai sesuatu yang lebih bernilai, sementara Casio menjadi simbol kebalikannya. Shakira seakan menyindir Piqué telah menurunkan standar pilihannya dalam hidup.

♡♡

Lagu itu segera mencuri perhatian dunia setelah dirilis pada 2023. Namun, yang justru menarik perhatianku bukan hanya liriknya, melainkan bagaimana Casio, sebagai brand yang dijadikan metafora dalam lagu tersebut, memilih untuk merespons.Dalam situasi seperti itu, banyak brand mungkin akan memilih diam. Sebagian lain mungkin tersinggung karena diposisikan sebagai simbol produk yang “lebih rendah” dibanding kompetitornya.

Casio memilih jalan yang berbeda. Mereka masuk ke dalam percakapan dengan santai, penuh percaya diri, bahkan sesekali membalas dengan humor. Alih-alih membantah lirik Shakira atau berusaha meyakinkan publik bahwa mereka “setara dengan Rolex”, Casio justru menikmati momentum tersebut.

Akun media sosial resmi Casio,salah satunya Casio Spanyol, mengunggah konten yang membalas lirik Shakira dengan nada bergembira. Mereka menulis slogan seperti “Kami senang kecipratan (salpicón) oleh ini”. Ini adalah pelesetan dari lirik lagu Shakira yang menyebut kata “salpique” (menyindir nama Piqué).

Selain itu, alih-alih minder atau defensif, akun resmi Casio justru memanfaatkan perhatian publik untuk membentuk kebanggan menjadi pengguna Casio dengan penggunaan tagar #TeamCasio. Brand itu menyadari bahwa dalam dunia komunikasi, perhatian adalah aset yang sangat berharga.

Akibatnya, Casio ikut mendapatkan “Shakira Effect” dengan baik, alias lonjakan nilai publisitas gratis. Media Women’s Wear Daily (WWD) yang dijuluki sebagai “kitab suci mode” atau “Wall Street Journal-nya dunia mode” bahkan menyebut, berkat drama dari lagu tersebut, pencarian internet terhadap merek Casio meroket tajam. Berdasarkan data analisis pasar, penyebutan nama Casio dalam lagu tersebut menghasilkan nilai publisitas gratis (media impact value) mencapai 70 juta dolar AS. Bahkan mengalahkan Rolex yang hanya mendapatkan sekitar 40,5 juta dolar AS.

♡♡

Dari cara Casio merespons, aku merasa ada setidaknya tiga pelajaran branding yang menarik. Pertama, brand yang kuat tidak selalu harus membela diri.

Dalam teori Brand Positioning yang diperkenalkan Al Ries dan Jack Trout, sebuah merek hidup di benak konsumen. Karena itu, merek yang sudah memiliki posisi yang jelas tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap setiap persepsi yang muncul. Casio tidak berusaha membuktikan bahwa mereka lebih baik dari Rolex. Mereka tetap menjadi Casio, dan justru karena itu respons mereka terasa percaya diri, bukan defensif.

Kedua, momentum budaya populer bisa menjadi media pemasaran yang jauh lebih kuat daripada iklan. Fenomena ini dikenal sebagai earned media, yaitu perhatian yang diperoleh secara organik karena publik membicarakan sebuah brand. Perhatian sebesar yang didapatkan Casio akibat lagu tersebut, sulit dibeli hanya melalui belanja iklan.

Ketiga, identitas merek lebih penting daripada gengsi. Rolex dan Casio sejak awal tidak bermain di arena yang sama. Rolex identik dengan kemewahan, prestise, dan simbol status. Casio dikenal sebagai jam tangan yang fungsional, tangguh, mudah dijangkau, dan telah menemani kehidupan sehari-hari jutaan orang selama puluhan tahun. Ketika dibandingkan dengan Rolex, Casio tidak kehilangan arah. Mereka memahami dengan sangat baik siapa diri mereka dan siapa konsumennya.

Di situlah aku merasa sedang melihat salah satu pelajaran branding yang paling menarik.Sering kali, baik dalam bisnis maupun kehidupan, kita sibuk membuktikan bahwa kita sama hebatnya dengan orang lain. Kita ingin terlihat seperti kompetitor, mengejar citra yang sama, bahkan merasa tersinggung ketika dibandingkan.

Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita benar-benar tahu siapa diri kita?

Brand yang kuat tidak selalu menjadi yang paling mahal. Ia menjadi kuat karena konsisten. Karena memahami nilai yang dibawanya. Karena tidak kehilangan arah hanya karena orang lain membuat perbandingan.

Mungkin itu sebabnya, ketika Piala Dunia 2026 mengingatkanku lagi pada Shakira, pikiranku ikut melayang pada Casio.Bukan karena jam tangan itu lebih mewah. Melainkan karena ia mengajarkan satu hal yang sering terlupakan dalam dunia branding: merek yang benar-benar kuat tidak sibuk menjadi orang lain. Ia cukup percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. ***

Gigitan Pertama Loenpia Mbak Lien yang Menyelamatkan Hidup

Pada akhir pekan baru-baru ini, aku menemani seorang kawan pergi ke Semarang. Kami berangkat pagi dengan menumpang Argo Muria dari Gambir dan tiba di Semarang Tawang pada siang harinya. Tujuan kami bukan untuk berlibur atau bekerja. Kami menempuh perjalanan hampir enam jam hanya untuk menikmati seporsi Loenpia Mbak Lien di sebuah gang di Semarang.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan itu terdengar tidak masuk akal. Berjam-jam di perjalanan hanya demi seporsi lumpia. Aku sempat bertanya, “Memangnya seenak itu?”

Dia tertawa kecil, namun tidak memberiku jawaban. Bukan karena pertanyaanku lucu, tetapi karena rupanya aku sedang mencari jawaban yang salah.

Setibanya di Semarang, kami pun menumpang Blue Bird untuk diantarkan ke Loenpia Mbak Lien. Setibanya di sana, tempatnya tampak tidak istimewa. Hanya sebuah gang di area perumahan dan tidak jauh dari sana, ada tempat makan yang tidak begitu besar ukurannya, namun ramai pengunjung.

Aku masih menyimpan banyak pertanyaan, saat kami pesanan kami, lumpia original spesial, disajikan di meja. Aku yang sudah lapar langsung menyantapnya. Rasanya memang istimewa. Namun hanya beberapa gigitan kemudian, aku berhenti memperhatikan lumpia itu. Perhatianku beralih pada kawanku yang duduk di hadapanku.

Dia tampak memandangi potongan lumpia dengan mata berbinar dan senyum tipis, seakan ada kebahagiaan sekaligus rasa pahit yang dia tahan di balik bibirnya. Dia lalu memadukan daun bawang segar, acar timun, cabai rawit hijau dan saus kental manis gurih di atas lumpianya, sebelum dia makan. Ekspresi wajahnya tidak bisa berdusta. Ketika gigitan pertama itu masuk ke mulutnya, ia menutup mata beberapa detik. Aku bahkan menemukan setitik air muncul di sudut matanya.

“Aku mencari gigitan ini,” ujarnya padaku.

“Paling tidak, ini alasanku untuk melanjutkan hidup,” sambungnya.

Singkat cerita, aku kemudian memahami bahwa beberapa waktu sebelumnya, hidup sedang tidak ramah kepadanya. Ada persoalan pribadi yang menguras hampir seluruh energinya. Ia masih bekerja, masih bercanda dan masih menjadi ibu yang sangat perhatian untuk anaknya.

Meski tampak baik-baik saja di luar, namun di dalamnya dia sedang hancur dan menyerah. Beberapa kali dia juga terlintas untuk mengakhiri hidup. Namun pada saat paling kritis dalam hidupnya itu, tiba-tiba dia teringat rasa lumpia itu. Lumpia yang pernah dia beli untuk ibunya saat pertama kali menerima gaji, belasan tahun lalu. Lumpia yang selalu dia nikmati bersama suami dan anaknya setiap kali berkunjung ke sana.

Dia ingin menikmati lagi rasa lumpia itu. Bahkan terbayang di kepalanya, bukan hanya rasa lumpianya yang lezat, tapi juga tabungan memori manis dan indah akan hidupnya setiap kali menikmati Loenpia Mbak Lien. Pada momen itu, dia berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Alasannya sederhana, karena di ingin menikmati Loenpia Mbak Lien lagi.

“Kayaknya aku masih mau hidup lebih lama deh. Aku masih pengen makan ini lagi bulan depan,” ujarnya sambil tertawa kecil, setelah menghabiskan satu porsi lumpia.

Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir seperti candaan. Namun justru di situlah aku menemukan sesuatu. Ini bukan tentang lumpia. Ini tentang alasan untuk bertahan hidup.

Kita sering mengira bahwa seseorang hanya bisa bertahan jika memiliki mimpi yang besar, tujuan hidup yang agung, atau alasan yang spektakuler. Memang bisa jadi demikian, tapi tidak selalu seperti itu.

Terkadang, pada hari-hari ketika hidup terasa paling berat, alasan sebesar itu justru sering kali terasa terlalu jauh untuk digapai. Yang kita butuhkan untuk bertahan kadang bukan alasan besar, melainkan alasan-alasan sederhana yang bermakna dan mudah digapai.

Aku jadi teringat tulisan seorang psikiater bernama Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning. Dia menulis bahwa yang penting bukanlah menemukan makna hidup secara umum, melainkan menemukan makna yang spesifik pada suatu momen kehidupan. Makna itu bisa berubah dari waktu ke waktu. Yang menyelamatkan kita hari ini belum tentu sama dengan yang menyelamatkan kita besok.

Aku rasa, gigitan pertama Loenpia Mbak Lien adalah makna yang spesifik pada hari itu untuk kawanku. Bukan karena lumpia itu memiliki kekuatan magis. Melainkan karena di tengah hidup yang terasa runtuh, masih ada satu pengalaman yang membuat seseorang berkata, “Aku ingin merasakan ini sekali lagi.”

Belakangan ini, rasanya semakin banyak orang yang sedang lelah. Ekonomi terasa tidak menentu. Harga kebutuhan naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Berita tentang PHK datang silih berganti. Masa depan terasa seperti kabut yang sulit ditembus.Di tengah situasi seperti itu, mungkin kita terlalu sering membebani diri dengan pertanyaan besar.

“Apa tujuan hidupku? Apa mimpiku?Apa makna hidupku?”

Padahal mungkin hari ini kita belum membutuhkan jawaban sebesar itu. Mungkin kita hanya perlu menemukan satu alasan kecil untuk semangat bangun besok pagi. Entah itu secangkir kopi dari kedai langganan, novel yang belum selesai dibaca, playlist yang selalu berhasil menenangkan, pertandingan tim kesayangan akhir pekan nanti, pelukan anak sepulang kerja atau gigitan pertama Loenpia Mbak Lien di sebuah gang kecil di Semarang.

Karena terkadang, hidup tidak diselamatkan oleh peristiwa-peristiwa besar. Hidup diselamatkan oleh hal-hal kecil yang cukup berarti. Sehingga ketika rasa ingin menyerah datang, kita mampu berkata, “Belum dulu. Aku masih ingin merasakan ini sekali lagi.”

Dan mungkin, jika hari ini kamu sedang berjuang bertahan, kamu tidak perlu buru-buru menemukan tujuan hidup yang besar. Cukup temukan satu alasan kecil yang membuatmu ingin menyambut hari esok. Sering kali, satu alasan kecil itu sudah cukup untuk menyelamatkan hidup. ***

Mobil, Playlist 2000-an, dan Cara Milenial Meregulasi Emosi

“Setiap orang punya cara pulang. Sebagian orang pulang ke rumah. Sebagian lagi pulang lewat lagu-lagu yang pernah menjadi soundtrack hidupnya.”

Ada satu kebiasaan yang hampir selalu aku lakukan ketika menyetir, yaitu memutar musik keras-keras dan ikut menyanyi. Playlist-nya pun hampir tidak pernah berubah. Lagu-lagu era 2000-an. Mulai dari Maroon 5, Beyoncé, Avril Lavigne, Britney Spears, Blue dan sederet lagu hits yang menemani masa remaja dan awal usia dua puluhan.

Kebiasaan itu aku lakukan hampir di setiap perjalanan. Saat berangkat atau pulang kerja. Saat menuju tempat olahraga. Atau ketika sedang berkendara untuk aktivitas lainnya.Entah mengapa, setiap kali melakukannya, rasanya seperti ada beban yang pelan-pelan terangkat. Padahal aku hanya duduk sendirian di dalam mobil, bernyanyi sekeras mungkin, seringkali fals, kadang lupa lirik, sesekali mengetuk setir mengikuti irama.

Tidak ada sesi terapi. Tidak ada percakapan yang menyelesaikan masalah. Tidak ada solusi yang tiba-tiba muncul. Tetapi setelah perjalanan itu selesai, rasanya selalu sedikit lebih lega.Selama ini aku tidak pernah benar-benar memikirkan kebiasaan tersebut. Aku melakukannya semata-mata for fun. Karena terasa seru. Karena memang suka saja.

Sampai beberapa waktu lalu aku melihat beberapa konten di TikTok dan X, baik dari kreator Indonesia maupun luar negeri, yang membahas fenomena serupa, yaitu soal how millennials regulate their emotions.

Menariknya, pola yang mereka ceritakan hampir sama. Yaitu menyetir, memutar musik dengan volume tinggi, lalu bernyanyi bersama playlist lagu-lagu tahun 2000-an.Aku langsung tertawa kecil. “Lho, kok ini aku banget?”

Rasa penasaran pun muncul. Apakah ini sekadar kebetulan? Atau memang ada penjelasan psikologis mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu akrab bagi sebagian orang?

Ternyata, ada. Dalam bab Music in Everyday Life: The Role of Emotions pada buku Handbook of Music and Emotion: Theory, Research, Applications (2010), seorang psikolog asal Inggris yang dikenal secara internasional atas kontribusi pionirnya dalam psikologi musik yaitu John Anthony menjelaskan bahwa musik dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar hiburan. Manusia menggunakan musik sebagai bagian dari cara mereka menjalani dan mengelola pengalaman emosional.

Yang menarik, menurut Sloboda, efek musik dalam kehidupan sehari-hari justru sering kali tidak bersifat dramatis. Musik tidak selalu membuat seseorang menangis atau mengalami luapan emosi yang besar. Sebaliknya, musik lebih sering menghasilkan perubahan-perubahan kecil yang nyaris tidak disadari, sedikit lebih tenang, sedikit lebih lega, sedikit lebih bersemangat, atau sedikit lebih nyaman menjalani aktivitas. Justru perubahan kecil yang terjadi berulang inilah yang membuat musik menjadi bagian penting dari kesejahteraan emosional seseorang.

Sloboda juga menekankan bahwa yang memengaruhi emosi kita bukan hanya lagunya, melainkan konteks saat lagu itu didengarkan. Lagu yang sama dapat menghadirkan pengalaman yang berbeda ketika diputar saat perjalanan menuju kantor, setelah hari kerja yang melelahkan, atau ketika berkendara sendirian di jalan yang lengang.

Artinya, ketika aku memutar playlist era 2000-an di dalam mobil, yang bekerja bukan hanya lagu-lagu Maroon 5 atau Avril Lavigne. Ada konteks yang menyertainya, yaitu ruang kecil yang relatif privat, jeda di antara berbagai tuntutan pekerjaan, kebebasan untuk bernyanyi tanpa takut dinilai, dan kesempatan memberi waktu bagi pikiran untuk perlahan menurunkan intensitasnya.

Sloboda juga memandang pendengar sebagai sosok yang aktif. Kita tidak mendengarkan musik secara pasif. Kita memilih lagu tertentu karena, sadar atau tidak, sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin menambah semangat, ada yang ingin menenangkan diri, ada pula yang hanya ingin ditemani agar perjalanan terasa lebih ringan.

Mungkin itu sebabnya banyak milenial memiliki playlist yang hampir tidak pernah berubah. Bukan karena mereka menolak musik baru. Bukan pula karena lagu-lagu era 2000-an selalu lebih baik. Melainkan karena di balik playlist itu tersimpan rasa yang sulit dijelaskan. Ada kenyamanan, ada keakraban, dan ada perasaan “pulang” yang muncul setiap kali lagu pertama diputar.Kini saya jadi memahami bahwa kebiasaan bernyanyi keras-keras di dalam mobil bukanlah sesuatu yang aneh atau kekanak-kanakan. Barangkali itu adalah cara sederhana tubuh dan pikiran memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Dan mungkin, sesekali, meregulasi emosi memang bisa dimulai dengan hal yang sangat sederhana: menyalakan mesin, menekan tombol play, lalu bernyanyi sekeras mungkin, seolah tidak ada siapa-siapa di kursi sebelah.Mungkin yang membuatku terus memutar playlist era 2000-an bukan karena aku sedang hidup di masa lalu. Melainkan karena, sesekali, aku hanya ingin pulang pada versi diriku yang terasa lebih ringan. ***

Di Antara Derap Kuda dan Secangkir Kopi: JJ Cafe Sawangan

Aku bukan tipe orang yang sengaja berburu kafe estetik. Karena buat aku, kafe yang baik bukanlah yang paling cantik, melainkan yang membuat aku betah duduk lebih lama dari rencana semula.

Baru-baru ini, gara-gara penasaran akibat keusilanku eksplor Google Maps saat susah tidur, aku berkunjung ke salah satu kafe di dekat rumah. Namanya JJ Cafe di Sawangan. Jaraknya hanya sekitar tujuh menit berkendara dari rumah. Tanpa ekspektasi apa pun, aku memutuskan untuk datang.

Hal pertama yang mengejutkanku justru bukan kopinya. Melainkan kawasan kafe itu. JJ Cafe berada di dalam area fasilitas berkuda premium yang membuatnya terasa berbeda dari kafe pada umumnya. Bahkan meski dikelilingi kandang kuda, kawasannya bersih dan tidak bau sama sekali. Kuda-kuda yang ada di situ pun, tampak sangat terawat, gagah dan cantik. Jujur, aku tidak menyangka ada tempat seperti ini sedekat itu dari rumah.

JJ Cafe sendiri letaknya di lantai dua, ada area indoor ber-AC dan area outdoor. Keduanya sama-sama menghadap langsung ke arena latihan berkuda. Dari sana, aku bisa menikmati sore sambil melihat para penunggang kuda (equestrian) berlatih di arena berlatih. Sesekali terdengar derap langkah kuda yang berpadu dengan semilir angin sore. Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang setiap hari bisa aku nikmati sambil minum kopi.

Saat bertanya kepada barista tentang menu yang direkomendasikan, aku memilih Brown Sugar Latte seharga Rp30.000. Rasanya bukan kopi terbaik yang pernah aku minum, tetapi cukup menyenangkan. Kalau harus mendeskripsikannya dengan satu kalimat, aku akan bilang, kopinya sopan di lidah. Manisnya tidak berlebihan dan tetap nyaman dinikmati.

Aku juga mencoba pisang goreng kampung dan french fries yang masing-masing dibanderol Rp30.000. Teman sore yang pas tanpa mengecewakan, berpadu harmonis dengan es kopi yang aku minum sambil melanjutkan pekerjaanku di depan laptop.

Namun, sejujurnya, aku rasa orang datang ke sini bukan semata-mata karena makanannya. Di titik ini, aku sadar bahwa yang dijual JJ Cafe sebenarnya bukan sekadar kopi atau makanan. Yang mereka jual adalah pengalaman. Rasa kopi dan makanan sangat bisa ditiru di kafe mana saja. Namun pemandangan equestrian berlatih di arena berkuda, di mana lagi bisa ditemukan?

Sebagai seseorang yang juga tertarik pada dunia bisnis, aku justru melihat kekuatan utama tempat ini ada pada konsepnya. Arena berkuda dan sekolah berkuda sudah lebih dulu menjadi sebuah bisnis dengan target pasarnya sendiri. Lalu, di tengah aktivitas itu, hadir sebuah kafe yang memungkinkan orang menikmati suasana tanpa harus menjadi penunggang kuda. Ini menurutku keputusan yang cerdas. Apalagi kafe dibuka untuk umum, bukan hanya untuk mereka yang berlatih kuda.

Orang tua yang menunggu anaknya latihan berkuda bisa menikmati kopi. Teman atau pasangan yang hanya ingin menemani juga tetap punya tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu. Bahkan orang seperti aku, yang awalnya hanya penasaran karena melihatnya di Google Maps, akhirnya ikut menikmati suasana yang ditawarkan.

Dengan kata lain, kafe ini tidak hanya menjual makanan dan minuman. Ia memperpanjang pengalaman pengunjung sekaligus membuka sumber pendapatan baru dari aset yang sudah dimiliki.

Menurutku, konsep seperti ini menarik. Sebuah bisnis tidak selalu harus menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kemampuan melihat potensi dari apa yang sudah ada, lalu mengemasnya menjadi pengalaman yang membuat orang betah dan punya alasan untuk ingin kembali.

Dan kalau ditanya, apakah aku akan kembali ke JJ Cafe? Jawabannya: iya.

Ada tempat yang membuat kita ingin cepat pulang. Ada juga tempat yang membuat kita menunda pulang. JJ Cafe, bagi aku, termasuk yang kedua.

Catatan Singgah Amelia

📍 JJ Cafe – Sawangan

☕ Yang aku pesan:

Brown Sugar Latte – Rp30.000

Pisang Goreng Kampung – Rp30.000

French Fries – Rp30.000

Bintang Crystal – Rp35.000

🌅 Waktu terbaik berkunjung:

sore hari, terutama jika ingin menikmati suasana dari area outdoor lantai dua.

💜 Alasan untuk kembali: duduk santai sambil menyaksikan equestrian latihan berkuda, menikmati sore yang tenang, dan mengingatkan diri bahwa kadang pengalaman terbaik datang dari tempat yang ditemukan secara tidak sengaja.