
Tidak semua yang tumbuh membutuhkan musim yang sempurna. Kadang, kehidupan justru menemukan cara untuk berbunga di tengah keadaan yang tidak ideal.
Setidaknya, itulah pelajaran yang saya dapatkan pagi tadi ketika menikmati pemandangan bugenvil yang sedang ranum-ranumnya di kebun saya.
Ada satu tanaman bugenvil yang beberapa hari terakhir seperti sedang berpesta. Brakteanya, yaitu bagian yang selama ini kita kira sebagai bunga, memenuhi ranting-rantingnya dengan warna pink fuchsia yang begitu cerah.
Sebenarnya, bunga bugenvil yang sesungguhnya justru berukuran kecil dan berada di tengah braktea berwarna-warni itu. Tetapi pagi itu, saya tidak terlalu peduli pada urusan botani. Saya hanya berdiri cukup lama dan menikmati warnanya.
Yang membuat saya heran bukan karena ia berbunga, melainkan karena ia berbunga sebanyak itu sekarang, saat sedang musim kemarau. Matahari terasa terik, hujan semakin jarang, dan saya pun beberapa kali lalai menyiram tanaman. Anehnya, justru pada saat seperti itulah bugenvil saya tampak semakin lebat, semakin cerah, semakin cantik.
Saya lalu teringat beberapa bulan sebelumnya. Ketika hujan turun hampir setiap hari, saya merasa menjadi pemilik tanaman yang baik. Saya rajin menyiram. Air berlimpah. Tanah basah. Rasanya semua yang dibutuhkan tanaman sudah saya berikan.
Tetapi bugenvil saya saat itu justru lebih banyak menumbuhkan daun. Bunganya tetap ada, tetapi tidak sebanyak sekarang. Warnanya pun tidak secerah ini.
Karena penasaran, saya pun mencari tahu. Ternyata, bugenvil memang memiliki karakter yang agak berbeda dari kebanyakan tanaman yang kita bayangkan. Ia menyukai cahaya matahari yang kuat dan tidak terlalu menyukai tanah yang terus-menerus basah.
Bahkan, penelitian mengenai pembungaan bugenvil menunjukkan bahwa kondisi kekurangan air tertentu dapat mempercepat munculnya kuncup dan meningkatkan jumlah kuncup bunga. Dalam penelitian tersebut, tingkat stres air tertentu membuat tanaman lebih cepat memasuki fase pembungaan, meskipun tentu saja stres yang terlalu berat tetap bukan sesuatu yang baik bagi tanaman.
Dengan kata lain, bugenvil tidak sedang “bahagia” karena kekurangan air. Ia hanya memiliki mekanisme hidup yang membuat tekanan tertentu dapat menjadi pemicu untuk berbunga.
Dan saya mendadak berpikir, bukankah manusia juga sering begitu?
Bukan berarti kesulitan adalah sesuatu yang harus kita cari. Bukan pula berarti penderitaan otomatis membuat seseorang menjadi lebih kuat. Saya tidak percaya pada romantisasi kesulitan, bahwa semakin susah hidup seseorang, semakin hebat pula ia kelak. Tidak sesederhana itu.
Tetapi mungkin kita sering lupa bahwa keadaan yang tidak ideal tidak selalu berarti kehidupan sedang gagal.
Karena itu, saya jadi teringat pada seorang penyair India, Kamala Das, yang menggunakan bugenvil dalam puisinya yang populer, The Wild Bougainvillea, yang dimuat dalam Summer in Calcutta pada 1965.Dalam puisi tersebut, Das menggambarkan bugenvil merah liar yang tumbuh di antara makam-makam tua. Di tengah lanskap yang dipenuhi kematian, kerusakan, dan kesedihan, bugenvil justru hadir sebagai sesuatu yang hidup, liar, berwarna, dan tetap tumbuh.
Bugenvil menjadi metafora tentang kehidupan yang masih mempunyai tenaga untuk muncul, bahkan di tempat yang dipenuhi kesedihan.
Membaca puisi itu, saya jadi teringat pada bugenvil di kebun saya sendiri. Barangkali, ada sesuatu yang memang khas dari tanaman ini, ia tidak selalu membutuhkan keadaan yang ideal untuk menunjukkan keindahannya. Kadang, ia justru menemukan waktunya untuk berbunga ketika keadaan sedang tidak sepenuhnya ramah.
Gagasan serupa, dengan bahasa yang berbeda, saya temukan dalam The Book of Joy, percakapan antara Dalai Lama dan Desmond Tutu tentang bagaimana manusia menemukan kegembiraan di tengah penderitaan. Buku itu tidak menawarkan kehidupan tanpa kesedihan. Sebaliknya, ia berbicara tentang bagaimana kita dapat tetap menemukan joy meskipun hidup tidak pernah benar-benar bebas dari kehilangan, kesulitan, dan ketidakpastian.
Ada satu kalimat Desmond Tutu yang menurut saya sangat indah: “We have hardship without becoming hard. We have heartbreak without being broken.”
Mungkin di situlah perbedaan antara sekadar bertahan dan benar-benar hidup.
Kita tidak selalu bisa memilih musim. Ada musim ketika semuanya terasa mudah. Ada musim ketika orang-orang datang membawa air, matahari cukup, tanah subur, dan hidup terasa seperti taman yang dirawat dengan baik.Tetapi ada pula musim ketika hujan berhenti. Ketika sesuatu yang kita andalkan pergi. Ketika seseorang yang kita sayangi memilih menjauh.
Atau, seperti yang sedang banyak dari kita rasakan sekarang, in this economy, ketika situasi tidak lagi memberi banyak rasa aman. Ketika ekonomi terasa semakin sulit. Ketika rencana yang kita susun dengan begitu hati-hati tidak berjalan seperti yang kita bayangkan.
Ketika kita bahkan mulai bertanya-tanya apakah kita masih akan mampu menjadi diri kita sendiri setelah melewati semua ini.
Dalam situasi tidak ideal semacam itu, mungkin kita semua sedang belajar menjadi bugenvil. Bukan untuk menyukai kekeringan. Bukan untuk menganggap kesulitan sebagai berkah.
Tetapi untuk mencari tahu, dalam keadaan seperti apa saya masih bisa hidup? Berapa banyak air yang saya butuhkan? Seberapa banyak cahaya yang membuat saya bertumbuh? Apa yang harus saya lepaskan? Apa yang harus saya pertahankan?
Sebab kita sering terlalu cepat menilai seseorang hanya dari bunganya. Kita melihat seseorang yang belum berhasil, lalu menyebutnya malas. Melihat seseorang yang belum berkembang, lalu menganggapnya tidak berbakat. Melihat seseorang yang jalannya lebih lambat, lalu mengira ia tidak punya ambisi.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu tanah tempat ia ditanam. Mungkin tanahnya terlalu keras. Mungkin cahayanya terlalu sedikit. Mungkin terlalu banyak air justru membuat akarnya sulit bernapas. Mungkin ia sedang melewati musim yang panjang. Atau mungkin ia memang membutuhkan sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini kita kira.
Barangkali masalahnya bukan pada bunganya. Barangkali kita hanya belum memahami apa yang dibutuhkan tanaman itu untuk berbunga.
Dan barangkali kita juga perlu lebih lembut kepada diri sendiri.
Tidak semua orang akan berbunga pada musim yang sama. Tidak semua orang membutuhkan jumlah air yang sama. Tidak semua orang tumbuh dengan cara yang sama.Ada yang mekar ketika hidup sedang lapang. Ada yang baru menemukan warnanya setelah kehilangan. Ada yang membutuhkan banyak perhatian. Ada pula yang justru tumbuh setelah diberi ruang. Ada yang berbunga cepat. Ada yang membutuhkan bertahun-tahun untuk membangun akar.
Yang penting bukan apakah hidup kita sedang berada pada musim yang sempurna. Yang penting adalah kita masih mencari cara untuk tetap hidup di dalamnya.
Pagi tadi saya kembali melihat bugenvil itu. Pink fuchsia-nya masih menyala di bawah matahari.Saya tidak tahu apakah minggu depan bunganya akan sebanyak hari ini. Mungkin tidak. Mungkin nanti hujan turun lagi, daun-daunnya kembali tumbuh lebih banyak, dan bunganya berkurang.
Tetapi sekarang saya tahu satu hal, ia tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk berbunga. Ia hanya melakukan apa yang bisa dilakukan sebuah bugenvil ketika musimnya tiba.
Mungkin manusia juga demikian.Kita tidak selalu bisa memilih tanah tempat kita tumbuh, musim yang harus kita lewati, atau keadaan yang datang kepada kita. Tetapi mungkin kita masih bisa belajar mengenali apa yang membuat kita tetap hidup, tetap tumbuh, dan sesekali, ketika waktunya tiba, tetap berbunga.Barangkali hidup memang bukan tentang selalu berada di musim yang baik. Barangkali, hidup adalah tentang menemukan cara untuk tetap berbunga di musim apa pun yang sedang kita jalani. ***