Gigitan Pertama Loenpia Mbak Lien yang Menyelamatkan Hidup

Pada akhir pekan baru-baru ini, aku menemani seorang kawan pergi ke Semarang. Kami berangkat pagi dengan menumpang Argo Muria dari Gambir dan tiba di Semarang Tawang pada siang harinya. Tujuan kami bukan untuk berlibur atau bekerja. Kami menempuh perjalanan hampir enam jam hanya untuk menikmati seporsi Loenpia Mbak Lien di sebuah gang di Semarang.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan itu terdengar tidak masuk akal. Berjam-jam di perjalanan hanya demi seporsi lumpia. Aku sempat bertanya, “Memangnya seenak itu?”

Dia tertawa kecil, namun tidak memberiku jawaban. Bukan karena pertanyaanku lucu, tetapi karena rupanya aku sedang mencari jawaban yang salah.

Setibanya di Semarang, kami pun menumpang Blue Bird untuk diantarkan ke Loenpia Mbak Lien. Setibanya di sana, tempatnya tampak tidak istimewa. Hanya sebuah gang di area perumahan dan tidak jauh dari sana, ada tempat makan yang tidak begitu besar ukurannya, namun ramai pengunjung.

Aku masih menyimpan banyak pertanyaan, saat kami pesanan kami, lumpia original spesial, disajikan di meja. Aku yang sudah lapar langsung menyantapnya. Rasanya memang istimewa. Namun hanya beberapa gigitan kemudian, aku berhenti memperhatikan lumpia itu. Perhatianku beralih pada kawanku yang duduk di hadapanku.

Dia tampak memandangi potongan lumpia dengan mata berbinar dan senyum tipis, seakan ada kebahagiaan sekaligus rasa pahit yang dia tahan di balik bibirnya. Dia lalu memadukan daun bawang segar, acar timun, cabai rawit hijau dan saus kental manis gurih di atas lumpianya, sebelum dia makan. Ekspresi wajahnya tidak bisa berdusta. Ketika gigitan pertama itu masuk ke mulutnya, ia menutup mata beberapa detik. Aku bahkan menemukan setitik air muncul di sudut matanya.

“Aku mencari gigitan ini,” ujarnya padaku.

“Paling tidak, ini alasanku untuk melanjutkan hidup,” sambungnya.

Singkat cerita, aku kemudian memahami bahwa beberapa waktu sebelumnya, hidup sedang tidak ramah kepadanya. Ada persoalan pribadi yang menguras hampir seluruh energinya. Ia masih bekerja, masih bercanda dan masih menjadi ibu yang sangat perhatian untuk anaknya.

Meski tampak baik-baik saja di luar, namun di dalamnya dia sedang hancur dan menyerah. Beberapa kali dia juga terlintas untuk mengakhiri hidup. Namun pada saat paling kritis dalam hidupnya itu, tiba-tiba dia teringat rasa lumpia itu. Lumpia yang pernah dia beli untuk ibunya saat pertama kali menerima gaji, belasan tahun lalu. Lumpia yang selalu dia nikmati bersama suami dan anaknya setiap kali berkunjung ke sana.

Dia ingin menikmati lagi rasa lumpia itu. Bahkan terbayang di kepalanya, bukan hanya rasa lumpianya yang lezat, tapi juga tabungan memori manis dan indah akan hidupnya setiap kali menikmati Loenpia Mbak Lien. Pada momen itu, dia berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Alasannya sederhana, karena di ingin menikmati Loenpia Mbak Lien lagi.

“Kayaknya aku masih mau hidup lebih lama deh. Aku masih pengen makan ini lagi bulan depan,” ujarnya sambil tertawa kecil, setelah menghabiskan satu porsi lumpia.

Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir seperti candaan. Namun justru di situlah aku menemukan sesuatu. Ini bukan tentang lumpia. Ini tentang alasan untuk bertahan hidup.

Kita sering mengira bahwa seseorang hanya bisa bertahan jika memiliki mimpi yang besar, tujuan hidup yang agung, atau alasan yang spektakuler. Memang bisa jadi demikian, tapi tidak selalu seperti itu.

Terkadang, pada hari-hari ketika hidup terasa paling berat, alasan sebesar itu justru sering kali terasa terlalu jauh untuk digapai. Yang kita butuhkan untuk bertahan kadang bukan alasan besar, melainkan alasan-alasan sederhana yang bermakna dan mudah digapai.

Aku jadi teringat tulisan seorang psikiater bernama Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning. Dia menulis bahwa yang penting bukanlah menemukan makna hidup secara umum, melainkan menemukan makna yang spesifik pada suatu momen kehidupan. Makna itu bisa berubah dari waktu ke waktu. Yang menyelamatkan kita hari ini belum tentu sama dengan yang menyelamatkan kita besok.

Aku rasa, gigitan pertama Loenpia Mbak Lien adalah makna yang spesifik pada hari itu untuk kawanku. Bukan karena lumpia itu memiliki kekuatan magis. Melainkan karena di tengah hidup yang terasa runtuh, masih ada satu pengalaman yang membuat seseorang berkata, “Aku ingin merasakan ini sekali lagi.”

Belakangan ini, rasanya semakin banyak orang yang sedang lelah. Ekonomi terasa tidak menentu. Harga kebutuhan naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Berita tentang PHK datang silih berganti. Masa depan terasa seperti kabut yang sulit ditembus.Di tengah situasi seperti itu, mungkin kita terlalu sering membebani diri dengan pertanyaan besar.

“Apa tujuan hidupku? Apa mimpiku?Apa makna hidupku?”

Padahal mungkin hari ini kita belum membutuhkan jawaban sebesar itu. Mungkin kita hanya perlu menemukan satu alasan kecil untuk semangat bangun besok pagi. Entah itu secangkir kopi dari kedai langganan, novel yang belum selesai dibaca, playlist yang selalu berhasil menenangkan, pertandingan tim kesayangan akhir pekan nanti, pelukan anak sepulang kerja atau gigitan pertama Loenpia Mbak Lien di sebuah gang kecil di Semarang.

Karena terkadang, hidup tidak diselamatkan oleh peristiwa-peristiwa besar. Hidup diselamatkan oleh hal-hal kecil yang cukup berarti. Sehingga ketika rasa ingin menyerah datang, kita mampu berkata, “Belum dulu. Aku masih ingin merasakan ini sekali lagi.”

Dan mungkin, jika hari ini kamu sedang berjuang bertahan, kamu tidak perlu buru-buru menemukan tujuan hidup yang besar. Cukup temukan satu alasan kecil yang membuatmu ingin menyambut hari esok. Sering kali, satu alasan kecil itu sudah cukup untuk menyelamatkan hidup. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *