Mengundang Ketenangan Tidur dengan Kaus Kaki

BEBERAPA bulan terakhir, insomnia jadi teman akrab saya. Seringkali di ujung malam, tubuh sudah rebah, namun kepala masih penuh sesak dengan pikiran, rencana, ide, gagasan dan juga kecemasan. Hasilnya, tidur cepat dan nyenyak pun menjadi suatu hal yang saya rindukan.

Kemudian pada suatu malam, karena begitu lelahnya dan ingin bisa tidur cepat, namun isi kepala masih melawan, saya pun mencoba upaya baru untuk bisa membantu tubuh saya selaras untuk istirahat cepat dan nyenyak. Saya iseng mengenakan kaus kaki sebelum tidur. Pikiran saya sederhana saja, barangkali kaus kaki bisa membawa kehangatan di kaki saya dan juga membawa efek rileks bagi tubuh saya untuk membantu mempercepat proses tidur.

Rasanya tidak terlalu terbiasa di awal, tapi kemudian kehangatan itu memang hadir di kaki dan membawa efek rileks serta menenangkan. Hasilnya, pada malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya berhasil terlelap tidur dengan cepat dan nyenyak.

Keesokan harinya, saya penasaran, apakah kaus kaki dan tidur cepat serta nyenyak hanya sugesti saya, atau memang ada kaitan ilmiahnya. Atau semalam bisa tidur cepat hanya karena saya terlalu lelah.

Saya pun menjelajah di internet dan menemukan ragam artikel dan jurnal yang menjawab rasa penasaran saya itu. Ternyata memang ada alasan ilmiahnya.

Salah satu jurnal yang saya baca adalah penelitian dari Seoul National University (Ko & Lee, 2018, Journal of Physiological Anthropology). Penelitian itu menemukan bahwa memakai kaus kaki saat tidur memang bisa mempercepat waktu untuk terlelap tidur dan menekan potensi terbangun di tengah malam serta menjaga suhu inti tubuh mereka tetap stabil.

Kok bisa?

Sederhananya, merujuk dari penelitian yang sama, tidur bukan hanya soal kantuk, tapi juga suhu tubuh. Menjelang tidur, suhu inti tubuh kita harus turun sedikit agar otak tahu waktunya istirahat. Caranya, tubuh melepas panas lewat tangan dan kaki. Nah, saat kaki hangat, pembuluh darah di sana terbuka lebih lebar. Akibatnya, aliran darah lancar, panas lebih cepat keluar, dan tubuh merasa lebih rileks. Hasilnya, kantuk datang lebih alami.

Bisa dibilang, kaus kaki membantu tubuh “bertransisi” dari mode-siaga ke mode-tenang. Dan mungkin, itu yang selama ini saya butuhkan, bukan obat tidur, tapi ruang kecil bagi tubuh untuk merasa aman.

Tapi jika dielaborasi lebih jauh, penelitian itu mengatakan bahwa kaus kaki yang digunakan juga harus longgar dan lembut seperti bed sock, yang memang dirancang khusus untuk tidur.

Karena jika terlalu tebal atau ketat, justru bisa menghambat sirkulasi darah dan bikin overheat. Saya sendiri masih memakai kaus kaki biasa, namun tentu saja kaus kaki yang bersih, bukan kaus kaki yang sudah dipakai seharian beraktivitas,

Saya sendiri bukan dokter atau peneliti yang paham betul soal pola tidur dan kaus kaki serta cara kerja tubuh. Jadi mungkin penggunaan kaus kaki dan efeknya pada tidur tidak sama bagi orang lain dengan kondisi tubuh dan gangguan tidur yang berbeda.

Namun saya sendiri, sejak malam itu menambah ritual sebelum tidur, bukan hanya mematikan lampu, tapi juga mengenakan kaus kaki. Lebih dalam lagi, saya memaknai bahwa tidur bukan sekedar proses mengistirahatkan tubuh, melainkan mengundang ketenangan.

Kadang dalam proses menuju tidur, saya tetap merasa gelisah dan isi kepala tetap ingin bekerja, tapi saat itu juga jari-jari kaki saya yang terasa hangat di balik kaus kaki seolah segera membawa pesan bagi tubuh dan isi kepala saya: “kamu boleh berhenti sejenak kok”.

Lucu, ya. Kita sering mencari ketenangan lewat hal besar seperti perjalanan jauh, meditasi, musik, bahkan terapi. Tapi ternyata, kadang jawabannya sesederhana sepasang kaus kaki lembut di kaki yang lelah.

Tidur pakai kaus kaki mungkin bukan solusi untuk semua orang, karena bagi banyak kasus gangguan tidur, terapi dan pengobatan medis merupakan solusi yang tepat. Tapi bagi saya, yang sempat bertarung dengan insomnia, kaus kaki jadi pengingat kecil, bahwa kenyamanan tidak selalu datang dari luar, melainkan dari tubuh yang belajar mengenal dirinya sendiri. ***

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *