
BARU-BARU ini saya terganggu dengan pemberitaan mengenai pernyataan seorang menteri tentang ide memproduksi “tas KW” versi lokal. Pada sebuah kesempatan, menteri tersebut menyatakan, kalau produk tiruan alias “KW” dari luar negeri bisa laku, kenapa UMKM lokal tidak membuat versi serupa?
Saya sempat menghela napas dalam. Karena bagi saya, yang gemar mengoleksi tas terutama tas buatan dalam negeri, pernyataan itu seakan menyiratkan bahwa produk lokal yang orisinal dan berkualitas masih belum cukup baik untuk bersaing, dibandingkan tas KW.
Ada beberapa kutipan dari bacaan saya belakangan, sebagai bagian dari studi saya, yaitu “Branding: Konsep dan Studi Merek Lokal” yang diterbitkan oleh Paramadina tahun 2020. Di buku itu, para panulis mengelaborasi bagaimana sejumlah merek lokal Indonesia sebenarnya sudah bisa bersaing dengan merek asing, bukan karena meniru, tapi karena mereka tahu caranya membangun strategi dan identitas. Kuncinya ada pada positioning dan diferensiasi yang jelas.
Pun begitu yang saya rasakan. Paling tidak sebagai konsumen dari merek-merk tas lokal berkualitas. Ada top 3 merk tas lokal yang saya gemari dan saya koleksi, yaitu Rounn, Mohimohisew dan Sewstories. Ketiga merk itu, utamanya memproduksi tas berbahan genuine leather. Mereka berdiri di atas fondasi karakter mereka sendiri, dengan desain produk dan material yang khas. Bukan hasil meniru produk branded yang sudah populer.
Rounn, misalnya, punya gaya urban yang berkelas namun tidak berisik, alias “understated luxury”. Ada kemewahan yang tenang, subtle dan elegan tanpa perlu banyak logo atau ornament yang mencolok. Rounn memiliki kekhasan sebagai tas kulit polos dengan detil potongan, jahitan. bahan dan hardware yang rapi dan berkelas. Produk-produknya pun dibuat dengan desain yang khas, terutama tas tipe Bao yang unik. Rounn hadir bukan sekedar sebagai aksesoris penampilan, tapi juga mencerminkan rasa percaya diri yang tenang.
Karena karakter produknya yang khas namun berkualitas, serta kemampuan para pendirinya dalam promosi dan kolaborasi, merek asal Surabaya ini pun memiliki tempat tersendiri di pasar mancanegara. Paling tidak, Rounn bisa menjadi contoh nyata bahwa merek tas lokal bisa punya nilai jual premium tanpa harus “menjiplak” brand luar.
Merk tas lokal lainnya yang juga saya koleksi adalah Mohimohisew Leather. Merek asal Depok ini memproduksi tas kulit asli. Namun yang membedakan, Mohimohisew Leather membuat tas kulit dengan warna yang lebih cerah dan dengan sentuhan tangan berupa lukisan yang dibuat manual. Dan hal ini yang membedakan merk ini dengan merk tas kulit lainnya, karena produknya terasa lebih “cheerful” dan personal.
Tidak tanggung-tanggung, bahkan Mohimohisew Leather menjadi top merchant di Internasional Handicraft Trade Fair (Inacraft) Jakarta 2025. Artinya, banyak konsumen yang tertarik memboyong produknya. Kalau Wardah dikenal lewat nilai “kecantikan halal”-nya, maka Mohimohisew punya “keunikan yang jujur” dari setiap jahitan dan goresan kuas di atasnya yang membangun ikatan erat dengan konsumennya.
Lain cerita dengan merk tas lain yang juga favorit saya, yaitu Sewstories. Ini adalah merk tas kulit premium lokal pertama yang saya beli beberapa tahun lalu. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai pengguna tas dari merek ini, kualitas dan durabilitasnya bisa saya acung jempol.
Merk ini unik, karena memproduksi tas dengan motif yang tidak biasa. Baik bahas kulit ataupun kanvas, dicetak dengan motif-motif yang menarik dan bahkan ada juga yang dipahat. Produksinya pun tidak langsung dalam jumlah besar. Seperti namanya, Sewstories, merk ini seakan menenun cerita pada setiap jahitannya. Hal inilah yang membuat Sewstories memiliki karakter yang khas dan menjadi nilai jualnya.
Dari ketiga merk tas lokal favorit saya ini, saya belajar bahwa membangun merek bukan tentang mengejar kemewahan yang serupa dari merek terkenal yang sudah ada, melainkan tentang membangun makna yang terasa. Tentu selain tiga merek yang saya tulis itu, masih banyak merek tas lokal lainnya yang tidak kalah berkualitas. Ketiga merek itu saya tulis karena berdasarkan pengalaman penggunaan pribadi.
Dari buku yang sama, saya belajar bahwa kekuatan merek muncul dari kombinasi antara kinerja, fungsi, dan aspek emosional. Artinya konsumen tidak sekadar membeli tas, mereka membeli rasa percaya diri, kedekatan, bahkan cerita yang ingin mereka bawa kemana pun pergi.
Itulah sebabnya produk lokal bisa punya affinity, alias kedekatan emosional yang tidak dimiliki produk KW. Kedekatan dan cerita ini dijahit dengan apik oleh para perajin tas lokal dalam produk-produk berkualitas yang tidak kalah saing. Jadi, daripada berlomba meniru tas luar, mungkin sudah waktunya kita merayakan tas-tas lokal agar juga semakin dikenal dan juga digemari. Karena pada produk-produk lokal lah harga diri kreativitas bangsa bersemayam. ***



PAGI itu, langit Prambanan masih berwarna lembut ketika ribuan orang berkumpul dengan jersey putih bercorak yang siap berubah jadi kanvas warna-warni. Saya ikut di antara mereka, merasakan semangat yang bukan hanya soal berlari, tetapi juga merayakan hidup di tengah kemegahan candi yang sudah berdiri sejak seribu tahun silam.
KEMARIN sore, usai berjibaku dengan hari, aku menyempatkan diri melepas lelah di sebuah sudut kedai kopi. Segelas latte hangat mengepul di hadapanku, aromanya menenangkan, seakan mengurai sisa penat yang menempel di tubuh.











