Tidak Perlu Meniru untuk Diakui: Sebuah Catatan Tentang Harga Diri Produk Lokal


BARU-BARU ini saya terganggu dengan pemberitaan mengenai pernyataan seorang menteri tentang ide memproduksi “tas KW” versi lokal. Pada sebuah kesempatan, menteri tersebut menyatakan, kalau produk tiruan alias “KW” dari luar negeri bisa laku, kenapa UMKM lokal tidak membuat versi serupa?

Saya sempat menghela napas dalam. Karena bagi saya, yang gemar mengoleksi tas terutama tas buatan dalam negeri, pernyataan itu seakan menyiratkan bahwa produk lokal yang orisinal dan berkualitas masih belum cukup baik untuk bersaing, dibandingkan tas KW.

Ada beberapa kutipan dari bacaan saya belakangan, sebagai bagian dari studi saya, yaitu “Branding: Konsep dan Studi Merek Lokal” yang diterbitkan oleh Paramadina tahun 2020. Di buku itu, para panulis mengelaborasi bagaimana sejumlah merek lokal Indonesia sebenarnya sudah bisa bersaing dengan merek asing, bukan karena meniru, tapi karena mereka tahu caranya membangun strategi dan identitas. Kuncinya ada pada positioning dan diferensiasi yang jelas.

Pun begitu yang saya rasakan. Paling tidak sebagai konsumen dari merek-merk tas lokal berkualitas. Ada top 3 merk tas lokal yang saya gemari dan saya koleksi, yaitu Rounn, Mohimohisew dan Sewstories. Ketiga merk itu, utamanya memproduksi tas berbahan genuine leather. Mereka berdiri di atas fondasi karakter mereka sendiri, dengan desain produk dan material yang khas. Bukan hasil meniru produk branded yang sudah populer.

Rounn, misalnya, punya gaya urban yang berkelas namun tidak berisik, alias “understated luxury”. Ada kemewahan yang tenang, subtle dan elegan tanpa perlu banyak logo atau ornament yang mencolok. Rounn memiliki kekhasan sebagai tas kulit polos dengan detil potongan, jahitan. bahan dan hardware yang rapi dan berkelas. Produk-produknya pun dibuat dengan desain yang khas, terutama tas tipe Bao yang unik. Rounn hadir bukan sekedar sebagai aksesoris penampilan, tapi juga mencerminkan rasa percaya diri yang tenang.

Karena karakter produknya yang khas namun berkualitas, serta kemampuan para pendirinya dalam promosi dan kolaborasi, merek asal Surabaya ini pun memiliki tempat tersendiri di pasar mancanegara. Paling tidak, Rounn bisa menjadi contoh nyata bahwa merek tas lokal bisa punya nilai jual premium tanpa harus “menjiplak” brand luar.

Merk tas lokal lainnya yang juga saya koleksi adalah Mohimohisew Leather. Merek asal Depok ini memproduksi tas kulit asli. Namun yang membedakan, Mohimohisew Leather membuat tas kulit dengan warna yang lebih cerah dan dengan sentuhan tangan berupa lukisan yang dibuat manual. Dan hal ini yang membedakan merk ini dengan merk tas kulit lainnya, karena produknya terasa lebih “cheerful” dan personal.

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Mohimohisew Leather menjadi top merchant di Internasional Handicraft Trade Fair (Inacraft) Jakarta 2025. Artinya, banyak konsumen yang tertarik memboyong produknya. Kalau Wardah dikenal lewat nilai “kecantikan halal”-nya, maka Mohimohisew punya “keunikan yang jujur” dari setiap jahitan dan goresan kuas di atasnya yang membangun ikatan erat dengan konsumennya.

Lain cerita dengan merk tas lain yang juga favorit saya, yaitu Sewstories. Ini adalah merk tas kulit premium lokal pertama yang saya beli beberapa tahun lalu. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai pengguna tas dari merek ini, kualitas dan durabilitasnya bisa saya acung jempol.

Merk ini unik, karena memproduksi tas dengan motif yang tidak biasa. Baik bahas kulit ataupun kanvas, dicetak dengan motif-motif yang menarik dan bahkan ada juga yang dipahat. Produksinya pun tidak langsung dalam jumlah besar. Seperti namanya, Sewstories, merk ini seakan menenun cerita pada setiap jahitannya. Hal inilah yang membuat Sewstories memiliki karakter yang khas dan menjadi nilai jualnya.

Dari ketiga merk tas lokal favorit saya ini, saya belajar bahwa membangun merek bukan tentang mengejar kemewahan yang serupa dari merek terkenal yang sudah ada, melainkan tentang membangun makna yang terasa. Tentu selain tiga merek yang saya tulis itu, masih banyak merek tas lokal lainnya yang tidak kalah berkualitas. Ketiga merek itu saya tulis karena berdasarkan pengalaman penggunaan pribadi.

Dari buku yang sama, saya belajar bahwa kekuatan merek muncul dari kombinasi antara kinerja, fungsi, dan aspek emosional. Artinya konsumen tidak sekadar membeli tas, mereka membeli rasa percaya diri, kedekatan, bahkan cerita yang ingin mereka bawa kemana pun pergi.

Itulah sebabnya produk lokal bisa punya affinity, alias kedekatan emosional yang tidak dimiliki produk KW. Kedekatan dan cerita ini dijahit dengan apik oleh para perajin tas lokal dalam produk-produk berkualitas yang tidak kalah saing. Jadi, daripada berlomba meniru tas luar, mungkin sudah waktunya kita merayakan tas-tas lokal agar juga semakin dikenal dan juga digemari. Karena pada produk-produk lokal lah harga diri kreativitas bangsa bersemayam. ***

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mengundang Ketenangan Tidur dengan Kaus Kaki

BEBERAPA bulan terakhir, insomnia jadi teman akrab saya. Seringkali di ujung malam, tubuh sudah rebah, namun kepala masih penuh sesak dengan pikiran, rencana, ide, gagasan dan juga kecemasan. Hasilnya, tidur cepat dan nyenyak pun menjadi suatu hal yang saya rindukan.

Kemudian pada suatu malam, karena begitu lelahnya dan ingin bisa tidur cepat, namun isi kepala masih melawan, saya pun mencoba upaya baru untuk bisa membantu tubuh saya selaras untuk istirahat cepat dan nyenyak. Saya iseng mengenakan kaus kaki sebelum tidur. Pikiran saya sederhana saja, barangkali kaus kaki bisa membawa kehangatan di kaki saya dan juga membawa efek rileks bagi tubuh saya untuk membantu mempercepat proses tidur.

Rasanya tidak terlalu terbiasa di awal, tapi kemudian kehangatan itu memang hadir di kaki dan membawa efek rileks serta menenangkan. Hasilnya, pada malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya berhasil terlelap tidur dengan cepat dan nyenyak.

Keesokan harinya, saya penasaran, apakah kaus kaki dan tidur cepat serta nyenyak hanya sugesti saya, atau memang ada kaitan ilmiahnya. Atau semalam bisa tidur cepat hanya karena saya terlalu lelah.

Saya pun menjelajah di internet dan menemukan ragam artikel dan jurnal yang menjawab rasa penasaran saya itu. Ternyata memang ada alasan ilmiahnya.

Salah satu jurnal yang saya baca adalah penelitian dari Seoul National University (Ko & Lee, 2018, Journal of Physiological Anthropology). Penelitian itu menemukan bahwa memakai kaus kaki saat tidur memang bisa mempercepat waktu untuk terlelap tidur dan menekan potensi terbangun di tengah malam serta menjaga suhu inti tubuh mereka tetap stabil.

Kok bisa?

Sederhananya, merujuk dari penelitian yang sama, tidur bukan hanya soal kantuk, tapi juga suhu tubuh. Menjelang tidur, suhu inti tubuh kita harus turun sedikit agar otak tahu waktunya istirahat. Caranya, tubuh melepas panas lewat tangan dan kaki. Nah, saat kaki hangat, pembuluh darah di sana terbuka lebih lebar. Akibatnya, aliran darah lancar, panas lebih cepat keluar, dan tubuh merasa lebih rileks. Hasilnya, kantuk datang lebih alami.

Bisa dibilang, kaus kaki membantu tubuh “bertransisi” dari mode-siaga ke mode-tenang. Dan mungkin, itu yang selama ini saya butuhkan, bukan obat tidur, tapi ruang kecil bagi tubuh untuk merasa aman.

Tapi jika dielaborasi lebih jauh, penelitian itu mengatakan bahwa kaus kaki yang digunakan juga harus longgar dan lembut seperti bed sock, yang memang dirancang khusus untuk tidur.

Karena jika terlalu tebal atau ketat, justru bisa menghambat sirkulasi darah dan bikin overheat. Saya sendiri masih memakai kaus kaki biasa, namun tentu saja kaus kaki yang bersih, bukan kaus kaki yang sudah dipakai seharian beraktivitas,

Saya sendiri bukan dokter atau peneliti yang paham betul soal pola tidur dan kaus kaki serta cara kerja tubuh. Jadi mungkin penggunaan kaus kaki dan efeknya pada tidur tidak sama bagi orang lain dengan kondisi tubuh dan gangguan tidur yang berbeda.

Namun saya sendiri, sejak malam itu menambah ritual sebelum tidur, bukan hanya mematikan lampu, tapi juga mengenakan kaus kaki. Lebih dalam lagi, saya memaknai bahwa tidur bukan sekedar proses mengistirahatkan tubuh, melainkan mengundang ketenangan.

Kadang dalam proses menuju tidur, saya tetap merasa gelisah dan isi kepala tetap ingin bekerja, tapi saat itu juga jari-jari kaki saya yang terasa hangat di balik kaus kaki seolah segera membawa pesan bagi tubuh dan isi kepala saya: “kamu boleh berhenti sejenak kok”.

Lucu, ya. Kita sering mencari ketenangan lewat hal besar seperti perjalanan jauh, meditasi, musik, bahkan terapi. Tapi ternyata, kadang jawabannya sesederhana sepasang kaus kaki lembut di kaki yang lelah.

Tidur pakai kaus kaki mungkin bukan solusi untuk semua orang, karena bagi banyak kasus gangguan tidur, terapi dan pengobatan medis merupakan solusi yang tepat. Tapi bagi saya, yang sempat bertarung dengan insomnia, kaus kaki jadi pengingat kecil, bahwa kenyamanan tidak selalu datang dari luar, melainkan dari tubuh yang belajar mengenal dirinya sendiri. ***

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Parfum Custom, Identitas dan Sustainability: Cerita dari Kombinasi Aroma Diri

BAGAIMANA ya aroma parfum yang mencerminkan “aku banget”? Pertanyaan itu kadang muncul random di kepala saya, karena saya sering gonta-ganti parfum, lantaran belum benar-benar tertaut erat pada satu aroma. Tapi baru-baru ini saya menemukan jawaban dari pertanyaan random saya itu di sebuah toko parfum di Bogor.

Berbeda dari biasanya, toko parfum ini menawarkan konsep customized fragrance alias parfum custom yang dibuat secara khusus sesuai dengan preferensi dan keinginan seseorang. Jadi, di toko ini saya bukan hanya jadi pembeli, tapi juga peracik aroma dari parfum yang dan di-personalized atau dipersonalisasi sesuai selera saya, mulai dari memilih aroma dasar, mencampur kombinasi, sampai menentukan kadar yang sesuai selera.

Begitu masuk ke toko, saya langsung disambut dengan puluhan aroma yang bikin penasaran. Ada wangi bunga seperti melati dan lavender, aroma kayu gaharu, bahkan ada yang unik seperti wangi laut, rumput, hujan atau bungkus rokok. Rasanya seperti masuk ke dunia penuh cerita, di mana setiap aroma bisa memunculkan kenangan atau suasana hati yang berbeda.

Untuk membuat parfum custom, prosesnya sederhana tapi menyenangkan. Saya diberi kesempatan untuk mencoba satu per satu aroma yang saya inginkan, lalu saya bisa memilih beberapa aroma favorit untuk dipadupadankan. Dari situ, saya bisa menentukan sendiri kadar atau persentase dari masing-masing aroma yang saya pilih, mau aroma apa yang lebih dominan dan seberapa besar kadarnya. Proses ini lebih terasa seperti perjalanan memotret diri dalam bentuk aroma.

Saya sendiri jatuh hati pada aroma air siraman kembang. Ini merupakan paduan antara aroma melati, mawar, kenanga dan cempaka yang sering digunakan dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Bagi saya, aroma ini menghadirkan kesan dan nuansa magis, sakral, tenang dan elegan penuh makna spiritual.

Selain itu, hati saya juga tertambat saat mencoba aroma gaharu murni. Ini memunculkan perpaduan aroma seperti kayu, tanah, rempah dan sedikit manis. Aroma ini memunculkan kesan otentik, hangat dan lembut yang memanjakan indra penciuman saya.

Akhirnya saya memilih dua aroma itu untuk dipadupadankan. Setelah mencoba beberapa kali dengan kadar yang berbeda-beda, saya pun menemuman paduan aroma yang pas dari kedua aroma tersebut, di mana aroma gaharu murni lebih dominan. Parfum itu pun bisa diberi nama sesuai keinginan kita. Saya memberi nama parfum itu “Poem”.

Parfum Poem bermakna seperti puisi bagi saya. Seperti puisi yang lahir dari pilihan kata, parfum ini lahir dari pilihan aroma, yang dirangkai sesuai rasa dengan kadar berbeda. Setiap tetesnya seperti bait, membawa nuansa berbeda, ada lembut, segar, hangat, bahkan magis. Karena itu, bagi saya parfum ini bukan sekadar campuran aroma, melainkan sebuah puisi dalam bentuk wangi, yang hanya bisa dibaca dengan indera penciuman dan dimaknai oleh hati.

Tren Produk Personalisasi & Sustainability

Pengalaman ini membuat saya sadar, tren personalisasi produm memang sedang naik daun. Orang-orang saat ini cenderung lebih ingin sesuatu yang lebih dekat dengan dirinya, bukan sekadar produk massal.

Beberapa waktu lalu saya membaca jurnal menarik yang selaras dengan tren ini, berjudul “Personalization of Products in the Industry 4.0; Concept and Its Impact on Achieving a Higher Level of Sustainable Consumption” yang dibuat oleh beberapa peneliti dari Polandia dan dipublikasikan di jurnal Energies 2020.

Dalam jurnal itu dijelaskan bahwa konsumen cenderung sangat puas dengan produk personalisasi. Mereka merasa produk lebih sesuai dengan identitas, memberi rasa unik, dan lebih berkualitas. Jurnal itu menjelaskan bahwa produk personalisasi mampu meningkatkan loyalitas konsumen, karena merasa produk itu merepresentasikan diri mereka sehingga konsumen cenderung bisa lebih menghargai produknya dan menggunakan lebih lama.

Hal ini memiliki imbas yang lebih jauh lagi, yakni pada sustainability. Merujuk pada jurnal yang sama, dijelaskan bahwa mass personalization dalam era Industri 4.0 memungkinkan konsumen jadi bagian dari desain, sehingga mereka lebih terikat dengan produknya dan mengurangi pola konsumsi yang berlebihan.

Dari penelitian ini, saya memahami bahwa personalisasi produk bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi juga strategi untuk mendukung sustainable development.

Parfum dan Gaya Hidup Berkelanjutan

Kalau dipikir-pikir, konsep parfum kustom ini juga mendukung sustainable lifestyle alias gaya hidup berkelanjutan. Karena dibuat sesuai permintaan, tidak ada stok berlebih yang berisiko terbuang. Konsumen juga lebih terikat secara emosional dengan parfum yang mereka racik sendiri. Jadi tidak heran jika parfum custom bisa terasa lebih “melekat” dibanding parfum biasa.

Pengalaman meracik parfum personal di Bogor ternyata lebih dari sekadar eksperimen menemukan aroma diri. Ada rasa puas ketika tahu botol yang saya bawa pulang bukan produk massal, tapi hasil pilihan saya sendiri. Di baliknya, ada cerita tentang tren baru yang semakin diminati: personalisasi yang bukan hanya membuat kita tampil beda, tapi juga mendorong cara konsumsi yang lebih mindful dan bertanggung jawab. ***

** Penulis merupakan postgraduate student di Business and Communication Management LSPR Institute, Jakarta. Penulis bisa dijumpai di Instagram @aku_amel

Ditulis pada Berbagi Kisah | Tinggalkan komentar

Menata Hati: Ketika Kajian Rohani Bertemu Kemampuan Branding dan Public Speaking

MINGGU pagi, 7 September 2025, saya yang sudah berdandan rapi mengenakan gamis dan hijab warna senada melangkahkan kaki ke Ballroom Double Tree Hotel, Bintaro, Tangerang Selatan. Agenda hari ini sudah saya tandai di kalender saya sejak Juli lalu, tepatnya setelah saya berhasil “war” tiket seharga Rp140 ribu untuk ikut kajian agama Islam bertajuk “Menata Hati”. Ini adalah kajian yang diisi oleh seorang pendakwah kondang yang kerap wara wiri di televisi dan FYP (For Your Page) Tiktok, yakni Ustaz Hilman Fauzi, atau yang biasa juga disebut juga Aa Hilman. Beliau memang rutin menggelar kajian Menata Hati di sejumlah wilayah dan kota di Indonesia. Awal September ini di Bintaro. 

Menata Hati di Bintaro ini dibuat tiga sesi kajian yang diisi oleh Ustaz Hilman dengan tema berbeda.  Saya memilih ikut sesi pertama di pagi hari yang mengangkat tema “Rahasia Ketenangan Hati”. Sesi pertama dimulai sejak pukul 08.30 pagi yang diisi dengan pesan-pesan sponsor dari sederet brand populer, dan dilanjutkan dengan kajian dari Ustaz Hilman, disambung sesi tanya jawab serta curhat dan ditutup dengan doa bersama. Ini adalah kali kedua saya mengikuti kajian Menata Hati. Sebelumnya saya juga pernah mengikuti di Bogor pada bulan ramadhan lalu. 

Sejak awal kajian, Ustaz Hilman menekankan bahwa ini bukan sekadar kajian rutin, melainkan sebuah acara yang benar-benar berbicara tentang hati dan menyentuh relung hati. Tak heran jika 6.000 tiket ludes hanya dalam dua hari untuk tiga sesi kajian di Bintaro saja. Ini merupakan indikasi betapa banyak orang merindukan ruang untuk mengisi kebutuhan batin, rohani dan spiritualitas, termasuk ketenangan hati.

Pada awal kajian, ada pertanyaan yang sederhana namun menghantam tepat di pusat kesadaran yang dilontarkan oleh Ustaz Hilman: semua orang ingin bahagia, tapi di mana letak kebahagiaan itu? Apakah pada harta yang menumpuk, pasangan yang setia, atau popularitas yang diagungkan? Beliau menjelaskan, kebahagiaan tidak terletak pada ketiga hal itu, melainkan pada hati yang merasakan ketenangan dalam setiap keadaan.

Ustaz Hilman juga menguraikan lebih jauh mengenai tiga rahasia ketenangan hati, merujuk pada hadis. Pertama, meyakini perjumpaan dengan Allah. Dengan demikian, kita sebagai manusia bisa memahami bahwa tujuan hidup kita adalah surga dan dunia adalah jembatan menuju ke sana. Ia mengajak audiens untuk tidak mudah patah, luka dan resah dengan dunia yang sementara, karena tidak satupun manusia yang hidupnya baik-baik saja. Setiap orang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Bedanya, orang beriman yang meyakini perjumpaan dengan Allah akan memiliki ketenangan hati menghadapi setiap ujian yang datang. 

Rahasia ketenangan hati kedua, jelas Ustaz Hilman, adalah ridha menerima atas segala apa yang Allah hadirkan. Ketenangan hati akan dirasakan saat kita selalu menerima segala ketentuan Allah. Dengan demikian, kita selalu bisa memaknai setiap kejadian yang datang dengan mengubah cara pandang kita terhadap takdir Allah.

Rahasia ketenangan hati yang ketiga, sambungnya, adalah merasa cukup dengan setiap pemberian Allah. Ketenangan hati terletak pada hati yang lapang dengan merasa cukup atas semua karunia Allah.

Mengikuti kajian ini membuat saya belajar banyak, bukan hanya dalam ilmu agama dan kebutuhan rohani serta mengisi ceruk yang kosong di hati, tapi juga belajar soal bagaimana mengelola event dengan baik, membangun branding yang kuat, membangun kemampuan public speaking yang mumpuni serta tetap relevan dengan zaman. 

Saya berangkat ke kajian dengan niat belajar lebih dalam akan banyak hal. Namun saat mengikuti kajian, saya rupanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menitikan air mata saat Ustaz Hilman menyinggung sisi-sisi kemanusiaan yang relevan dengan kehidupan saya. Saya yakin saya tidak sendiri, karena saya melihat di sekitar saya juga jamaah ada yang menangis di beberapa momen saat kajian. 

Saya kagum pada Ustaz Hilman karena isi kajiaannya universal namun mampu menyentuh banyak sisi kemanusiaan serta masalah hidup yang relevan dengan audiensnya, serta orang dewasa pada umumnya. Beberapa isu yang diangkat seperti hati yang belum berdamai dengan trauma masa lalu, kekecewaan pada pasangan, permasalahan cinta, anak, keluarga, karir, perasaan dilukasi dilukai, dikhianati serta dikecewakan. 

Kemampuan Ustaz Hilman mengemas isi kajiannya yang sarat ilmu agama namun membumikan isinya agar relevan dengan situasi audiens, saya acungi jempol. Ditambah lagi kemampuan public speakingnya yang mumpuni, dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, bahkan sesekali menyelipkan guyonan, membuat kemasan acara tersebut memiliki value yang lebih kuat. 

Tidak jarang di sela-sela kajian, Ustaz Hilman dengan sengaja mengajak audiensnya untuk menyalakan kamera handphone dan mengunggah momen kajian itu di media sosial. Selain bisa ikut menebarkan kebaikan, hal tersebut juga menunjukkan bagaimana Ustaz Hilman sangat memahami audiensnya serta kebutuhannya untuk eksis di media sosial. Hal ini sekaligus membantu memperkuat citra dan popularitas Ustaz Hilman, paling tidak melalui media sosial. Tidak ada yang salah dengan ini, saya justru salut dengan apa yang beliau lakukan. 

Hal lain yang juga saya apresiasi adalah pengaturan acara yang cukup rapi. Meski pada saat bubar acara ada sedikit kepadatan, karena hanya pintu belakang yang dibuka, namun secara keseluruhan, acara diselenggarakan dengan tertib. Saya pun tertarik dengan konsep kajian di ballroom hotel seperti ini karena membawa suasana berbeda yang lebih kasual. Ditambah lagi, ballroom hotel yang sejuk membuat saya nyaman dan bisa khidmat menyimak kajian hingga akhir.

Mengikuti kajian Menata Hati di Bintaro bersama Ustaz Hilman Fauzi menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya batin, tetapi juga membuka mata tentang pentingnya menghadirkan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dari pesan yang sederhana namun mendalam, saya belajar bahwa ketenangan hati bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan lahir dari keyakinan, keridhaan, dan rasa cukup atas pemberian Allah. 

Namun lebih dari itu, saya juga menemukan pelajaran berharga di luar ranah spiritual: bagaimana sebuah acara bisa dikemas dengan branding yang kuat, public speaking yang mengena, serta strategi bisnis yang relevan dengan kebutuhan audiens masa kini. Hal ini terasa sejalan dengan bidang akademis yang sedang saya tempuh, sehingga kajian ini bagi saya menjadi ruang belajar yang lengkap—menata hati sekaligus menajamkan cara pandang tentang komunikasi, branding, dan manajemen. ***

** Penulis merupakan postgraduate student di Business and Communication Management LSPR Institute, Jakarta

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Prambanan Color Run Festival 2025: Berlari Menjelajah Warisan Dunia dengan Cara yang Berbeda

PAGI itu, langit Prambanan masih berwarna lembut ketika ribuan orang berkumpul dengan jersey putih bercorak yang siap berubah jadi kanvas warna-warni. Saya ikut di antara mereka, merasakan semangat yang bukan hanya soal berlari, tetapi juga merayakan hidup di tengah kemegahan candi yang sudah berdiri sejak seribu tahun silam.

Sejak awal, acara ini sudah terasa berbeda. Mengusung tema “The Most Aesthetic Fun Run 5K at Candi Prambanan”, event ini mengajak para peserta untuk menjelajah candi Hindu terbesar di Indonesia dengan cara yang tak biasa. Alih-alih sekadar menikmati keindahan arsitektur dari kejauhan, saya benar-benar merasakannya sambil berlari, dikelilingi pemandangan candi yang megah dan cahaya pagi yang hangat.

Racepack yang Menggoda

Sebagai pelari fun yang senang mengikuti event lari, pastinya racepack & medali merupakan daya tarik tersediri. Begitupun dengan event ini. Dengan biaya pendaftaran Rp285.000, peserta sudah mendapat racepack yang cukup lengkap. Di dalamnya ada jersey Color Run Festival, string bag, BIB nomor, sunglasses, refreshment, insurance, produk sponsor gratis, hingga sertifikat digital. Plus finisher medali yang didapatkan usai finish berlari. Semua item ini dirancang apik dan membuat saya merasa sedang mengikuti sebuah festival olahraga yang serius digarap, bukan sekadar fun run biasa.

Karena ini adalah event “color run”, maka jersey putih merupakan pelengkap yang sesuai. Warna putih itu akan berubah menjadi kanvas hidup, karena sepanjang rute para peserta akan dihujani taburan serbuk warna-warni. Medali finisher dengan siluet Candi Prambanan pun menjadi item memorable yang layak dikoleksi. Sementara sunglasses dan string bag menambah kesan kasual, seolah mengingatkan bahwa event ini memang bertujuan menghadirkan keceriaan dan gaya hidup sehat sekaligus.

Rute yang Aesthetic

Lari dimulai pukul 06.00 dari Lapangan Brahma di kompleks Prambanan. Rutenya hanya 5 kilometer, mengelilingi area candi dan kawasan sekitarnya, termasuk persawahan dan pemukiman.

Karena ini konsepnya fun run, tidak ada catatan waktu yang dikejar. Saya merasa bebas menikmati setiap langkah, sembari sesekali berhenti untuk bergaya di hadapan fotografer Fotoyu atau sekadar menghela napas menikmati panorama.

Yang paling berkesan tentu saat melintas di depan Candi Prambanan yang megah. Candi ini sudah berdiri sejak abad ke-9, sebuah mahakarya arsitektur Hindu yang masih kokoh setelah lebih dari seribu tahun. Dalam benak saya, kisah legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso terlintas begitu saja. Betapa kisah cinta yang romantis sekaligus tragis itu, masih terus hidup hingga kini, seakan berbisik di sela-sela batu candi yang menjulang.

Berlari di sana membuat saya merasa seakan berada di persimpangan antara masa lalu dan masa kini. Di satu sisi, saya merasakan denyut sejarah dan kebudayaan. Di sisi lain, tubuh saya dibanjiri warna-warni serbuk, musik, dan tawa riuh para peserta. Perpaduan itu menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Lebih dari Sekadar Lari

Sekitar pukul 07.00 saya sudah mencapai garis finish. Namun acara tidak berhenti di situ. Ada panggung hiburan yang diisi dengan zumba party dan musik enerjik, bazaar makanan, hingga spot foto yang memang disiapkan bagi peserta. Semua ini memperkuat kesan bahwa Color Run Prambanan bukan hanya event olahraga, melainkan festival gaya hidup.

Saya mengapresiasi bagaimana penyelenggara mampu menjaga keseimbangan antara semangat fun run dengan atmosfer bersejarah Prambanan. Karena saya paham, tidak mudah menggelar acara di kawasan warisan dunia yang sarat nilai budaya. Tetapi justru keberanian untuk menghidupkan ruang itu dengan semangat kekinian membuat acara ini terasa istimewa.

Bagi saya, Prambanan Color Run Festival 2025 lebih dari sekadar ajang lari santai. Ia adalah cara baru untuk menghidupkan warisan budaya, menjadikannya relevan dengan generasi masa kini tanpa kehilangan keanggunannya. Berlari sambil diselimuti warna-warni di bawah bayangan Candi Prambanan adalah pengalaman yang akan sulit saya lupakan.

Sebagaimana kisah Roro Jonggrang yang tetap hidup di ingatan kita, begitu pula acara ini akan terus membekas. Sebuah pengingat bahwa sejarah dan kebahagiaan bisa berpadu indah dalam langkah-langkah sederhana seorang pelari. **

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kamboja di Sudut Kedai: Percakapan soal Gugur & Luhur

KEMARIN sore, usai berjibaku dengan hari, aku menyempatkan diri melepas lelah di sebuah sudut kedai kopi. Segelas latte hangat mengepul di hadapanku, aromanya menenangkan, seakan mengurai sisa penat yang menempel di tubuh.

Sambil menikmati manis dan creamy-nya yang mendarat lembut di lidahku, mataku tidak sengaja tertambat pada sesuatu yang berdiri tegak di pekarangan kedai kopi itu, sebuah pohon kamboja.

Pohon itu cukup besar, batangnya kekar namun terlihat kering dan sedikit bengkok, khas kamboja yang memang tidak pernah sekalipun menjanjikan keelokan pada batangnya. Tetapi justru di situ letak keindahannya. Ia memamerkan kemolekannya melalui daun-daun yang segar dan bunga-bunganya yang menyimpan harum dan warna yang aduhai.

Bunganya mekar tanpa malu-malu, menampakkan semburat putih berpadu dengan kuning di tengahnya yang tampak jelita. Kontras antara batang yang kaku dan bunganya yang anggun menghadirkan pesan diam-diam, bahwa keindahan kerap lahir dari sesuatu yang sederhana, bahkan dari yang tampak keras dan gersang.

Saat aku kecil, sayangnya kecantikan pohon kamboja tertutup oleh stigma yang tertanam padaku: pohon menyeramkan karena banyak kujumpai di pemakaman.

Padahal ia tidak menyeramkan sama sekali. Pohon kamboja memang piawai menghadirkan suasana sendu. Bunganya tetap berbinar meski lepas dari pohon. Pun harumnya tidak lekas tanggal. Kehadirannya membawa pesan kuat bahwa hidup dan mati hanyalah bagian dari siklus. Fana. Seperti bunga kamboja yang tetap wangi setelah gugur, kehidupanpun boleh berakhir, tetapi kebaikan yang ditebar tidak pernah sungkan membagikan wanginya.

Lebih luhur lagi, kamboja kerap menjasi menjadi perantara pada yang lebih agung di tanah dewata. Ia suci, bak persembahan dari kemurnian hati yang tulus.

Ah.. Malam yang perlahan menghampiriku di sudut kedai kopi itu pun menjadi pengingat waktu agar aku segera beranjak. Tidak lupa kutinggalkan senyum pada pohon kamboja di pekarangannya. Terima kasih ya atas percakapannya yang hangat, meski tanpa perlu pertukaran kata.

Besok kita coba lagi menjadi kamboja, memberanikan diri untuk mekar dengan cantik di tengah batang yang kering dan sederhana. Kita coba lagi,  untuk tidak hanya hidup dengan baik, tapi juga meninggalkan jejak dengan baik dan menjadi perantara pada yang lebih luhur. ***

 

 

 

 

 

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pengalaman Pakai Kamera Yashica Digimate Saat Traveling ke Banyuwangi: Nostalgia Era Tustel di Zaman Digital

PERTENGAHAN Juli 2025 jadi momen yang menyenangkan dan cukup emosional buat aku. Setelah lebih dari 15 tahun berteman sejak masa kuliah, akhirnya aku bisa healing bareng geng era kuliah dulu dengan traveling bareng ke Banyuwangi. Yang membuat perjalanan kali ini lebih berkesan, bukan cuma tempat tujuannya yang indah, tapi juga gadget baru yang aku bawa: kamera Yashica Digimate.

Kamera ini bukan kamera digital canggih dengan fitur segudang, tapi justru di situlah letak pesonanya. Kamera ini berhasil membawa aku throwback ke masa-masa SMP, ketika tustel analog masih jadi teman setia saat bepergian.

Kenalan dengan Kamera Yashica Digimate

Aku beli Yashica Digimate di awal Juli 2025 di Doss Camera, Ratu Plaza, Jakarta. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp1.099.000. Dari tampilannya saja, kamera ini sudah memancarkan aura retro yang bikin jatuh hati. Bentuknya mungil, simple dengan kesan klasik yang kuat plus warnanya gemesin banget. Tapi jangan salah, meski terlihat jadul, ini kamera digital yang bisa menyimpan hasil jepretan dalam kartu memori.

Satu hal yang langsung terasa saat memakainya: sensasi memotret yang pure. Nggak ada layar besar untuk cek hasil foto berulang-ulang, nggak ada filter instan, apalagi fitur AI. Hanya kamu, momen, dan insting. Dan justru di situlah letak keasyikannya. Rasanya seperti kembali ke masa di mana memotret adalah soal rasa dan kepekaan, bukan soal kesempurnaan.

Mengabadikan Momen di Banyuwangi

Selama traveling ke Banyuwangi—dari Green Island, Taman Nasional Baluran hingga Ijen—aku mengandalkan kamera Yashica Digimate ini untuk mengabadikan momen-momen spesial.

Hasil fotonya memang nggak se-crisp kamera mirrorless modern. Bahkan kalah jauh sama hasil jepretan Samsung Galaxy Z Fold 6 yang juga aku pakai. Tapi justru itulah yang bikin unik. Ada grain, tone yang hangat, dan kesan autentik yang nggak bisa ditiru filter-filter di ponsel. Setiap foto terasa seperti potongan memori, bukan sekadar dokumentasi.

Nostalgia dan Nilai Emosional

Yang paling aku suka dari pengalaman ini adalah perasaan nostalgia yang dibawa kamera ini. Mengingatkan aku pada masa-masa SMP dengan tustel Kodak isi film 36, dan harus menunggu berhari-hari untuk lihat hasil cetaknya. Sekarang, dengan Yashica Digimate, sensasi itu hadir kembali—dengan sedikit sentuhan modern.

Pakai kamera ini saat traveling juga bikin aku lebih mindful. Karena keterbatasan fitur dan jumlah foto, aku jadi lebih hati-hati dan fokus dalam memilih momen. Nggak asal jepret. Dan hasilnya? Lebih banyak momen yang terekam dengan makna.

Worth It Kah Kamera Yashica Digimate?

Kalau kamu sedang mencari kamera digital retro dengan harga terjangkau dan pengalaman fotografi yang berbeda, Yashica Digimate layak banget dicoba. Cocok untuk kamu yang ingin kembali menikmati esensi fotografi tanpa distraksi digital. Selain itu, ini juga bisa jadi statement piece saat traveling—unik, klasik, dan penuh cerita.

Dan buatku pribadi, kamera ini bukan cuma alat dokumentasi, tapi juga mesin waktu kecil yang berhasil membawa aku kembali ke kenangan masa remaja, saat memotret masih jadi bentuk ekspresi paling jujur.

Kalau kamu suka traveling dan ingin membawa sesuatu yang beda dari biasanya, coba deh bawa kamera ini. Siapa tahu, kamu juga bakal merasakan keajaiban nostalgia yang sama seperti yang aku alami. ***

Ditulis pada Berbagi Kisah | Tinggalkan komentar

Puisi Sahur Mahwi Air Tawar di Tadarus Puisi Ramadhan Creator Club 2025

PADA Jumat, 14 Maret 2025 lalu, saya ikut ambil bagian dalam sebuah kegiatan intimate bertajuk “Tadarus Puisi Ramadhan” yang digelar oleh Creator Club di Roemah Kuliner, Metropole, Jakarta. Setiap anggota Creator Club diminta untuk membacakan sebuah puisi yang bernuansa spiritual untuk menambah khidmat nuansa ramadhan.
Saya membawakan sebuah puisi karya seorang penyair kawakan yang juga saya anggap sebagai mentor saya dalam berpuisi -walaupun yang bersangkutan sering merasa bahwa kata “mentor” itu berlebihan, tapi saya tutup telinga- yaitu Mahwi Air Tawar.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Puisi | 1 Komentar

Pengalaman Menjadi MC untuk Anugerah Sastra Taufiq Ismail di TIM

Dengan puisi aku bernyanyi, sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta, berbatas cakrawa
Dengan puisi aku mengenang, keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis, jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk, nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya

Puisi Taufiq Ismail berjudul “Dengan Puisi, Aku” tersebut aku jadikan pintu pembuka acara Anugerah Sastra dan Kebudayaan Tahun 2024 dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta kepada Taufiq Ismail, saat aku menjadi pembawa acara atau MC tunggal di acara tersebut pada Selasa malam, 25 Juni 2024. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Berbagi Kisah | 1 Komentar

Denny JA, Fernando Botero, dan Lukisan AI di Mahakam 24 Residence

ADA kesamaan antara Fernando Botero, pelukis ternama asal Kolombia yang saya kagumi, dengan Denny JA, tokoh top Indonesia di bidang konsultan politik, kepenulisan dan seni budaya, soal lukisan. Setidaknya tentang substansi lukisan. Botero dan Denny JA, menurut saya, sama-sama mempunyai pandangan bahwa karya seni harus memberikan kesenangan.

“Art was created to give a pleasure”. Begitu pandangan Botero yang kerap dia gaungkan dalam banyak kesempatan semasa hidupnya.

Fernando Botero banyak dikritik soal pandangannya ini. Tapi dia bergeming. Bahkan beberapa bulan sebelum kematiannya di akhir 2023, dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, dia bersikukuh dengan pandangannya itu. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Sudut Pandang, Uncategorized | Tinggalkan komentar